Opini
Pendidikan Buka Pasar
Di titik inilah kita perlu bertanya dengan jujur dan memakai hati nurani, apakah kampus memang dilahirkan hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Furqan-Mawardi-Dosen-Universitas-Muhammadiyah-Mamuju.jpg)
Membaca Ulang Wacana Penutupan Program Studi
Oleh: Furqan Mawardi
(Dosen Universitas Muhammadiyah Mamuju)
Ada kegelisahan yang perlahan mulai tumbuh di ruang-ruang akademik kita. Kegelisahan itu muncul ketika kampus mulai terlalu sering dibicarakan dengan bahasa pasar.
Mulai dari kata Efisiensi, serapan kerja, kebutuhan industri, dan keuntungan ekonomi.
Bahkan belakangan, muncul wacana penutupan sejumlah program studi yang dianggap tidak lagi relevan dengan kebutuhan pasar kerja.
Alasan yang dikemukakan terdengar logis, yaitu prodi harus menyesuaikan diri dengan dunia industri, dengan kebutuhan lapangan kerja, dengan tren ekonomi masa depan.
Sekilas, tidak ada yang salah. Tetapi persoalannya menjadi berbeda ketika pendidikan mulai dipersempit maknanya hanya sebagai penyedia tenaga kerja.
Baca juga: Membaca Arah Pendidikan Lewat Tes Kemampuan Akademik
Di titik inilah kita perlu bertanya dengan jujur dan memakai hati nurani, apakah kampus memang dilahirkan hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar?
Bagi saya, kampus bukan pabrik buruh. Universitas bukan mesin produksi tenaga kerja. Kampus adalah rumah ilmu pengetahuan, ruang tumbuhnya gagasan, tempat lahirnya kritik, inovasi, dan peradaban.
Ketika pendidikan tinggi hanya diukur dengan logika pasar, maka sesungguhnya kita sedang perlahan membunuh ruh pendidikan itu sendiri.
Kita tentu memahami bahwa lulusan perguruan tinggi memang harus mampu beradaptasi dengan dunia kerja.
Tidak ada yang salah dengan orientasi profesionalisme. Namun menjadikan pasar sebagai penentu utama hidup-matinya sebuah disiplin ilmu adalah cara pandang yang terlalu sempit terhadap hakikat pendidikan.
Hari ini mungkin ada program studi yang dianggap tidak “menjual”. Tetapi sejarah berkali-kali menunjukkan bahwa banyak perubahan besar justru lahir dari bidang ilmu yang dahulu dipandang sebelah mata.
Ilmu pengetahuan tidak tumbuh dari selera pasar semata, tetapi dari rasa ingin tahu, penelitian, perenungan, dan keberanian berpikir melampaui zamannya.
Kita tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya dunia jika seluruh ilmu hanya dipertahankan berdasarkan hitungan ekonomi sesaat. Bisa jadi filsafat sudah lama ditutup karena dianggap tidak menghasilkan uang.
Sastra dianggap tidak produktif. Sejarah dianggap tidak relevan. Bahkan ilmu-ilmu keagamaan mungkin dipandang tidak punya kontribusi industri secara langsung. Padahal dari ilmu-ilmu itulah lahir moralitas, kebudayaan, identitas bangsa, dan arah peradaban manusia.
| Menanti Pembuktian "Assa" untuk Petani Polman |
|
|---|
| Kado Ulang Tahun Duta Sheila On 7: Single Baru atau Keteladanan yang Tak Pernah Usang? |
|
|---|
| Mamasa: Karnaval di Atas Tangisan Epilepsi |
|
|---|
| Menimbang Energi Nuklir: Perspektif Hukum Tata Negara dalam Penguatan Kebijakan Energi Nasional |
|
|---|
| Man Behind the Gun Trump: The Domino Effect Reaching Indonesia |
|
|---|