Kamis, 30 April 2026

Opini

Pendidikan Buka Pasar

Di titik inilah kita perlu bertanya dengan jujur dan memakai  hati nurani,  apakah kampus memang dilahirkan hanya untuk memenuhi kebutuhan pasar?

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Pendidikan Buka Pasar
dokumen pribadi/dok pribadi
Furqan Mawardi, Dosen Universitas Muhammadiyah Mamuju 

Tokoh pendidikan kritis asal Brasil, Paulo Freire, pernah mengingatkan bahwa pendidikan tidak boleh sekadar menjadi alat reproduksi sistem ekonomi.

Pendidikan, menurutnya, harus membebaskan manusia, membangun kesadaran kritis, dan memanusiakan manusia.

Ketika pendidikan hanya diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar, maka manusia perlahan diposisikan hanya sebagai komoditas ekonomi. Kampus kehilangan fungsi emansipatorisnya. Mahasiswa tidak lagi dididik untuk berpikir, tetapi hanya dilatih untuk bekerja.

Kritik Freire terasa sangat relevan dengan kondisi hari ini. Kita mulai menyaksikan bagaimana universitas didorong untuk semakin pragmatis.

Ukuran keberhasilan pendidikan lebih sering dihitung dari angka serapan kerja ketimbang kualitas moral, kedalaman intelektual, atau kontribusi kemanusiaannya.

Seolah-olah nilai sebuah ilmu hanya ditentukan oleh cepat atau tidaknya menghasilkan uang. Padahal pendidikan sejatinya berbicara tentang masa depan manusia, bukan sekadar masa depan industri.

Pandangan yang lebih mendalam juga disampaikan oleh pemikir Muslim kontemporer, Syed Muhammad Naquib al-Attas.

Ia menegaskan bahwa tujuan utama pendidikan bukanlah sekadar mencetak pekerja, tetapi membentuk manusia yang beradab. 

Dalam konsepnya tentang ta’dib, pendidikan harus melahirkan manusia yang mengenal tempatnya di hadapan Tuhan, masyarakat, dan ilmu pengetahuan. Pendidikan bukan sekadar transfer keterampilan, melainkan proses pembentukan akhlak, kebijaksanaan, dan kesadaran spiritual.

Di sinilah letak kegelisahan terbesar kita. Ketika kampus terlalu tunduk pada logika pasar, maka perlahan pendidikan kehilangan dimensi adabnya.

Ilmu tidak lagi dipandang sebagai jalan membangun peradaban, tetapi sekadar alat kompetisi ekonomi. Akibatnya, lahirlah generasi yang mungkin cerdas secara teknis, tetapi rapuh secara moral dan miskin kepekaan sosial.

Lebih menyedihkan lagi, jika negara mulai menentukan kelayakan sebuah ilmu hanya berdasarkan kebutuhan industri sesaat, maka sesungguhnya negara sedang mempersempit cakrawala berpikir bangsanya sendiri.

Padahal tugas pendidikan tinggi justru menyiapkan masa depan yang belum sepenuhnya terlihat hari ini. Universitas harus menjadi mercusuar yang menerangi masa depan, bukan sekadar mengikuti arah angin pasar.

Kampus seharusnya menjadi ruang yang bebas untuk merawat keberagaman ilmu pengetahuan. Sebab bangsa besar tidak dibangun hanya oleh insinyur dan pebisnis, tetapi juga oleh ahli pendidikan, budayawan, filsuf, sejarawan, sosiolog, ulama, dan para pemikir yang menjaga nurani bangsa.

Karena itu, wacana penutupan program studi perlu dilihat secara lebih hati-hati dan bijaksana. Evaluasi tentu penting. Perbaikan mutu juga sebuah keniscayaan. Tetapi pendekatan pendidikan tidak boleh semata-mata dibangun di atas logika untung-rugi ekonomi. Sebab ketika pendidikan kehilangan idealismenya, maka bangsa ini perlahan akan kehilangan arah peradabannya.

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved