Rabu, 27 Mei 2026

Opini

Pamoseang Menagih Janji SDK

Pamoseang bukan wilayah tanpa sejarah. Ia menyimpan jejak panjang peradaban Pitu Ulunna Salu

Tayang:
Editor: Abd Rahman
zoom-inlihat foto Pamoseang Menagih Janji SDK
Istimewa
FOTO PRIBADI AHMAD FAISAL 

Bagi warga Pamoseang, pertalian darah kini tak lagi dimaknai sebagai kebanggaan semata. Ia berubah menjadi pertanyaan tentang kehadiran. Di mana mereka yang merasa bagian dari kami ketika kami menunggu pertolongan? Mengapa kedekatan genealogis tidak otomatis menghadirkan keberpihakan kebijakan?

Pertanyaan itu tidak harus dibaca sebagai serangan personal. Ia adalah refleksi kolektif atas relasi antara kekuasaan dan komunitas asalnya.

Rousseau berbicara tentang kontrak sosial. Kesepakatan moral antara penguasa dan rakyat. Janji bukan sekadar hiasan pidato; ia adalah hutang yang menuntut pemenuhan. Ketika janji dilanggar, yang runtuh bukan hanya proyek, melainkan legitimasi penguasa itu sendiri.

Delapan puluh tahun Indonesia merdeka, lebih dari dua dekade Kabupaten Mamasa berdiri, namun warga Pamoseang masih menandu orang sakit berkilometer jauhnya. Jalan tetap berlumpur, waktu terus berlalu, dan janji tetap menjadi bayangan. Setiap langkah yang terpaksa dipikul adalah pengingat diam bahwa kontrak sosial gagal ditepati.

Di Pamoseang, pidato dan simbol tidak menyelamatkan nyawa. Hannah Arendt mengingatkan, kekuasaan hanya sah bila melayani kehidupan bersama. Jika dulu Budong-Budong menuntut senjata dan perlawanan, hari ini keberanian diuji dengan janji yang ditepati. Membuka jalan, memastikan pertolongan sampai, dan membebaskan nyawa dari lumpur. Ataukah membiarkan janji itu menjadi nisan yang menuntut pertanggungjawaban.(*)

 

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved