Selasa, 26 Mei 2026

Opini

Dakwah Sebagai Pecakapan Jiwa

Semua itu menghadirkan kedekatan. Pada titik ini, dakwah tidak lagi hadir sebagai nasihat sepihak. Ia menjelma menjadi percakapan jiwa.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Dakwah Sebagai Pecakapan Jiwa
Nur Salim Ismail
Nur Salim Ismail 

Oleh: Nur Salim Ismail  

Ada momen tertentu ketika seorang da’i berdiri di hadapan jamaah, membawa lebih dari sekadar bahan ceramah.

Ia hadir dengan seluruh dirinya: pengalaman hidup, doa-doa yang disimpan dalam kesunyian, kegelisahan yang pernah singgah, serta harapan yang terus dirawat. Pada saat itulah dakwah menjelma menjadi perjumpaan batin.

Berbicara di hadapan manusia bukan sekadar menyusun kalimat. Ia merupakan usaha menghadirkan hati.

Dalam Public Speaking for Success, Dale Carnegie mengajak pembaca memahami bahwa keberhasilan berbicara tidak tumbuh dari teknik semata. Ia berakar pada keberanian untuk hadir apa adanya, pada kesediaan membuka diri, pada ketulusan berbagi makna.

Seorang pembicara diajak menyadari bahwa getaran gugup yang kerap muncul merupakan tanda kehidupan batin. Energi itu dapat diarahkan menjadi kehadiran yang penuh kesadaran.

Baca juga: Ekspansi Iman dan Batas Kemanusiaan

Baca juga: Keranjang Kuning dan Jiwa yang Kehilangan Arah

Ketika seseorang berbicara dengan kesadaran, tubuhnya ikut menyampaikan pesan, tatapannya membawa ketenangan, jeda napasnya menghadirkan ruang refleksi.

Dalam dunia dakwah, pelajaran ini terasa sangat dekat. Da’i bukan figur yang berdiri jauh di atas mimbar spiritual. Ia adalah sesama peziarah yang sedang berjalan bergandengan menuju dekapan Tuhan. Kata-katanya menjadi jembatan. Sikapnya menghadirkan kehangatan.

Dakwah yang hidup berangkat dari kehidupan jamaah. Dari cerita sederhana tentang lelah bekerja. Dari keresahan orang tua terhadap masa depan anak-anaknya.

Dari sunyi seseorang yang sedang mencari arah. Ketika pesan agama dipertautkan dengan pengalaman manusia, hati mulai terbuka. Jamaah merasa disapa. Mereka merasa ditemani.

Bahkan, muqaddimah ceramah pun menemukan fungsinya sebagai gerbang kesadaran. Sebuah pertanyaan reflektif, sepenggal kisah, pengakuan jujur tentang kelemahan diri.

Percakapan Jiwa

Semua itu menghadirkan kedekatan. Pada titik ini, dakwah tidak lagi hadir sebagai nasihat sepihak. Ia menjelma menjadi percakapan jiwa.

Carnegie juga menekankan pentingnya cerita. Pada dasarnya, manusia menyimpan pelajaran melalui kisah. Pengalaman pribadi, hikayat orang-orang saleh, perjalanan para nabi, semuanya bekerja perlahan di ruang batin. Cerita menembus lapisan rasional, lalu menetap sebagai kesadaran.

Bahasa dakwah menemukan kesederhanaannya. Kalimat pendek mudah diterima. Ungkapan sehari-hari terasa hangat. Makna yang dalam dapat disampaikan melalui kata yang membumi.

Itu sebabnya, titik pembeda antara dakwah dan ulasan akademik, memiliki irisan yang berbeda. Sebab, tujuan berbicara bukan memamerkan keluasan pengetahuan, melainkan menyalakan cahaya kecil di hati pendengar.

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved