Senin, 25 Mei 2026

Opini

Dakwah Sebagai Pecakapan Jiwa

Semua itu menghadirkan kedekatan. Pada titik ini, dakwah tidak lagi hadir sebagai nasihat sepihak. Ia menjelma menjadi percakapan jiwa.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Dakwah Sebagai Pecakapan Jiwa
Nur Salim Ismail
Nur Salim Ismail 

Dalam setiap aktivitas dakwah, tubuh ikut berdakwah. Gerak tangan yang alami, tatapan yang lembut, keheningan sejenak setelah kalimat penting, seluruhnya menjadi bagian pesan. Kadang satu jeda, mampu menggetarkan lebih dalam, daripada rangkaian kata panjang.

Seorang da’i sepatutnya berjalan bersama jamaahnya. Ia hadir sebagai sahabat perjalanan. Bahasa “kita” menumbuhkan rasa kebersamaan.

Sikap rendah hati membuka ruang dialog batin. Dari sini tumbuh keberanian jamaah untuk bercermin pada diri sendiri. Jamaah mungkin tidak mengingat seluruh isi ceramah. Mereka menyimpan rasa yang tertinggal di hati.

Lalu, dari mana memulainya? Ada wilayah paling sunyi dalam perjalanan dakwah, wilayah yang tidak tersorot kamera dan tidak terukur oleh jumlah penonton. Wilayah itu bernama niat.

Ketika jamaah semakin banyak, ketika undangan berdatangan, ketika nama mulai dikenal, seorang da’i memasuki ruang yang rawan: ruang kekaguman publik.

Pada fase ini, dakwah berhadapan dengan ego. Popularitas bukan persoalan. Dikenal banyak orang bukan kesalahan. Yang perlu dijaga ialah hati agar tidak menjadikan pengenalan itu sebagai tujuan. Sebab ketika tujuan bergeser, arah dakwah ikut berubah.

Ada perbedaan halus antara dipanggil karena amanah dan ingin dipanggil karena hasrat pengakuan. Da’i yang menjaga adab tidak sibuk mencari panggung. Ia sibuk merawat kesiapan diri. Ia tidak berlomba tampil. Ia berlomba menata batin. Ia tidak mengejar sorotan. Ia mengejar keberkahan.

Sikap ingin ditampilkan, ingin disebut, ingin diprioritaskan, perlahan mengerdilkan kewibawaan spiritual. Jamaah mungkin masih mendengar, namun hati mereka tidak lagi sepenuhnya tersentuh.

Dalam kedewasaan spiritual, kemuliaan seorang penyampai pesan terletak pada kerendahan hatinya. Da’i yang matang secara batin merasa cukup ketika satu orang menemukan ketenangan. Ia bersyukur ketika satu hati tercerahkan.

Ia tidak mengukur keberhasilan dari jumlah kamera, melainkan dari perubahan kecil dalam kehidupan jamaah. Sebagaimana defenisi Dakwah yang diajukan oleh Syekh Muhammad Abduh. Bahwa Dakwah itu bicara tentang hadirnya perubahan setelah pesan dakwah diserukan.

Seorang Da’i harus memiliki batin yang tegak bahwa ia sedang tidak menghipnotis umat. Melainkan sedang mengarahkan gerak jiwa manusia kepada Tuhan. Karena itu, etika da’i bermula dari cara memandang diri.

Ia menempatkan dirinya sebagai perantara, bukan tujuan. Ia menjaga jarak dari pujian yang berlebihan. Ia menyimpan kritik sebagai cermin. Ia menata langkah agar tetap sederhana.

Di ruang inilah dakwah menjadi ibadah sunyi. Seorang da’i yang hadir dengan kesadaran seperti ini akan berbicara dengan tenang. Ia memberi ruang bagi jamaah untuk merenung. Ia memilih kata yang lembut. Ia mengajak dengan kasih.

Pada akhirnya, dakwah yang sejati tidak meninggalkan kesan tentang hebatnya penceramah. Ia meninggalkan jejak hangatnya pertemuan.

Dan mungkin, di situlah makna terdalam public speaking dalam dakwah: bukan seni tampil di hadapan manusia, melainkan seni menjaga hati di hadapan Allah.(*)

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved