Opini
Komika, Antara Edukasi Politik dan Etika Bertutur
Tajuknya pun membawa memori publik akan kasus hukum Tom Lembong, yang mana istilah Mens Rea banyak didiskusikan di banyak ruang publik.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Dosen-Ilmu-Politik-Unsulbar-Muhammad-soroti-polemik-Komika-Pandji.jpg)
Oleh: Muhammad
Dosen Ilmu Politik Unsulbar
Pandji Pragiwaksono belakangan menjadi nama yang sering muncul dalam pemberitaan media massa akibat kontroversi candaannya dalam pertunjukan stand up comedy.
Diberi tajuk “Mens Rea” yang memuncaki rangking tayangan di salah satu aplikasi nonton online cukup memberikan gambaran bagi kita bagaimana tayangan ini telah dikonsumsi oleh masyarakat luas.
Tajuknya pun membawa memori publik akan kasus hukum Tom Lembong, yang mana istilah Mens Rea banyak didiskusikan di banyak ruang publik.
Baca juga: Pilkada Langsung vs Pilkada DPRD
Di tengah kejenuhan publik terhadap bahasa politik yang kaku dan elitis, panggung komika justru kerap menjadi ruang yang lebih hidup untuk membicarakan isu-isu publik.
Di sana, politik tidak hadir dalam bentuk pidato, orasi dan agitasi, melainkan lewat cerita keseharian, sindiran halus, dan tawa yang akrab.
Komika, dalam konteks ini, tampil bukan sekadar sebagai penghibur, melainkan sebagai aktor politik nonformal yang turut membentuk cara publik memahami realitas politik dengan bahasa yang tentunya lebih mudah dicerna oleh publik.
Panji adalah salah satu dari sekian banyak komika tanah air yang menjadikan tema politik menjadi materi stand up.
Fakta bahwa di era persebaran teknologi dan informasi yang sangat cepat seperti sekarang ini pesan politik yang disampaikan oleh komika bukan hanya dikonsumsi oleh banyak kalangan tapi juga dapat dimaknai berbeda oleh berbagai segmen masyarakat.
Mulai dari apresiasi karena dianggap memberikan pesan edukasi politik, dihujat karena banyak menggunakan kata kasar dan menyinggung, bahkan dilaporkan karena candaannya dianggap telah melanggar ketentuan hukum. Beberapa yang diroasting menanggapi santai seperti wapres, gubernur Jabar bahkan Raffi Ahmad.
Di sisi lain, kemampuan komika yang mengemas kegelisahan publik akan performa pemerintah yang dirasakan semakin jauh dari rakyat, ketidakadilan yang banyak disebabkan oleh keserakahan, dan banyak problematika kerakyatan lainnya dengan bahasa candaan dan mudah dikonsumsi dapat menjadi stimulus bagi rakyat untuk berpikir kritis.
Di sinilah para komika bertransformasi menjadi saluran edukasi politik. Dengan bahasan yang absurd hal yang mungkin selama ini menurut banyak orang sebagai sesuatu yang normal, mulai bertanya akan ketimpangan-ketimpangan.
Strategi Edukasi Politik Komika
Erving Goffman (1922-1982) ilmuan Kanada memperkenalkan teori framing yang mempelajari bagaimana manusia memaknai realitas sosial dalam situasi sehari-hari.
Dalam perspektif Erving Goffman, materi edukasi politik berhasil dimodifikasi dan diframing oleh komika sehingga penikmatnya bersedia mendengar sebelum mereka merasa diberi ceramah.
Dengan demikian efektivitas penyampaian pesan dirasakan karena resistensi audies dikaburkan dengan diajak tertawa tanpa merasa digurui untuk dapat berpikir kritis.