Opini
Kita Makin Terhubung, Tapi Mengapa Merasa Sendiri
Interaksi yang seharusnya menguatkan justru berubah menjadi perbandingan sosial yang melelahkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Sutanti-Idris-SE-CMC-Founder-Aoife-Social.jpg)
Oleh : Sutanti Idris, S.E., CMC.
Founder Aoife Social
Di era digital hari ini, kita hidup dalam dunia yang nyaris tanpa jarak. Dengan satu sentuhan layar, kita dapat berbincang dengan orang di belahan dunia lain, berbagi cerita, bahkan membangun jejaring profesional lintas negara.
Media sosial, kecerdasan buatan (AI), dan berbagai teknologi komunikasi diciptakan dengan satu janji besar: mendekatkan manusia satu sama lain. Namun ironisnya, di tengah konektivitas yang semakin masif, perasaan kesepian justru kian menguat.
Pertanyaan pun muncul: mengapa kita makin terhubung, tetapi merasa makin sendiri?
Secara teknis, manusia tidak pernah sedekat ini. Notifikasi hadir setiap menit, pesan masuk tanpa henti, dan linimasa dipenuhi wajah-wajah yang tampak bahagia, sukses, dan produktif.
Namun kedekatan digital ini sering kali bersifat dangkal. Kita saling melihat, tetapi tidak benar-benar mengenal. Kita saling menyapa, tetapi jarang sungguh-sungguh mendengarkan.
Baca juga: TRIBUN WIKI - Dr Aras Bakal Calon Rektor Termuda UNUSIA
Interaksi yang seharusnya menguatkan justru berubah menjadi perbandingan sosial yang melelahkan.
Media sosial, yang awalnya dimaksudkan sebagai ruang berbagi, kini menjelma menjadi panggung kompetisi. Keahlian, pencapaian, gaya hidup, dan bahkan kebahagiaan dipamerkan secara terus-menerus. Tanpa disadari, kita terdorong untuk mengukur nilai diri dari jumlah suka, komentar, dan pengikut.
Di sinilah jarak emosional mulai tercipta. Bukan karena kita tidak dikelilingi orang, melainkan karena kita merasa tertinggal, tidak cukup baik, dan tidak layak untuk didengar.
Kecerdasan buatan memperkuat paradoks ini. Algoritma dirancang untuk memahami preferensi kita, menyajikan konten yang kita sukai, dan membuat kita betah berlama-lama di layar.
Namun pada saat yang sama, algoritma juga menciptakan gelembung sosial. Kita disuguhi dunia yang seolah relevan dengan kita saja, menjauhkan kita dari dialog yang tulus dan perbedaan yang sehat.
Alih-alih memperluas empati, teknologi justru bisa mempersempit ruang batin.
Dampaknya tidak berhenti pada rasa sepi. Dalam kondisi rapuh secara mental, sebagian orang terjebak pada pelarian yang berbahaya. Judi online, misalnya, tumbuh subur di ruang digital.
Dengan iming-iming keuntungan instan, kemudahan akses, dan promosi yang agresif, banyak orang terjerumus tanpa sadar. Korbannya tidak lagi bertambah setiap tahun, melainkan hampir setiap hari.
Fenomena ini bukan semata persoalan moral, melainkan sinyal kuat adanya krisis makna, tekanan hidup, dan kesepian yang tidak tertangani.