Jumat, 22 Mei 2026

Opini

Kita Makin Terhubung, Tapi Mengapa Merasa Sendiri

Interaksi yang seharusnya menguatkan justru berubah menjadi perbandingan sosial yang melelahkan.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Kita Makin Terhubung, Tapi Mengapa Merasa Sendiri
Istimewa/ist
Sutanti Idris, S.E., CMC, Founder Aoife Social 

Ketika relasi sosial melemah, manusia mencari pengganti—entah dalam bentuk validasi digital, sensasi instan, atau harapan palsu.

 Judi online menjadi contoh paling nyata bagaimana teknologi yang tidak dikendalikan dengan bijak dapat memperparah luka sosial.

Ini seharusnya menjadi tanda tanya besar bagi kita semua: apakah teknologi masih kita gunakan sebagai alat, atau justru kita yang telah menjadi objeknya?

Di titik inilah refleksi menjadi penting. Teknologi sejatinya netral. Ia tidak jahat, tetapi juga tidak otomatis membawa kebaikan.

Manusialah yang memberi arah. Ketika kita menyerahkan kendali sepenuhnya pada algoritma, notifikasi, dan tren digital, kita perlahan kehilangan otonomi atas pikiran dan emosi kita sendiri.

Padahal, teknologi seharusnya memperkuat hubungan antarmanusia, bukan menggantikannya.

Kita perlu kembali pada kesadaran dasar bahwa manusialah yang mengendalikan teknologi, bukan sebaliknya. Media sosial semestinya menjadi jembatan empati, bukan tembok perbandingan.

AI seharusnya membantu meringankan beban hidup, bukan menambah tekanan batin. Jika teknologi digunakan dengan niat dan batas yang jelas, ia bisa menjadi alat untuk saling menguatkan, saling menjaga, dan saling hadir.

Bayangkan jika kecanggihan teknologi benar-benar diiringi dengan kedalaman relasi. Tidak ada lagi orang yang merasa sendirian di tengah keramaian digital.

Tidak ada lagi yang terjerumus karena merasa tak punya tempat bersandar. Kita akan lebih sering mendengar kalimat sederhana namun bermakna: “Baik-baik saja untuk lelah. Percayalah, kau tidak sendiri, sesulit apa pun keadaanmu.”

Desember, sebagai penutup tahun, memberi kita ruang untuk berhenti sejenak dan bertanya: sudahkah teknologi mendekatkan kita sebagai manusia? Atau justru menjauhkan kita dari satu sama lain? Jawabannya ada pada pilihan kita bersama—untuk menggunakan teknologi dengan kesadaran, empati, dan kemanusiaan.

Jika kita berhasil, maka janji indah teknologi bukan sekadar koneksi tanpa batas, melainkan hubungan yang bermakna. Dan pada akhirnya, tidak ada lagi yang benar-benar merasa sendiri.(*)

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved