Opini
Krisis Ekoteologi di Negara Beragama
Bencana besar yang baru-baru ini terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat membuka kembali lembaran problematik tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/MUH-Yusrang-SH-Penyuluh-Agama-Islam-Kantor-Kementerian-Agama-Kabupaten-Mamuju-Tengah.jpg)
Oleh: Muh Yusrang, S.H
Penyuluh Agama Islam Kemenag Mamuju Tengah
Di tengah intensitas bencana ekologis yang semakin sering melanda berbagai wilayah Indonesia, muncul satu pertanyaan mendasar yang layak direnungkan: bagaimana sesungguhnya relasi manusia dengan alam dipahami dalam konteks masyarakat yang mengaku beragama?.
Indonesia sering menyebut dirinya sebagai negara yang religius, tempat nilai-nilai ketuhanan diklaim hadir dalam setiap sendi kehidupan. Namun, kenyataan di lapangan memperlihatkan jurang lebar antara ajaran yang menghormati ciptaan dan praktik ekonomi-politik yang justru menggerus keseimbangan ekologis.
Di sinilah pentingnya membaca ulang ekoteologi, sebuah perspektif yang menempatkan hubungan manusia, alam, dan Tuhan dalam satu kesatuan moral sebagai kacamata untuk melihat akar persoalan sekaligus jalan keluar yang mungkin ditempuh.
Baca juga: Hari Guru Nasional, Sebuah Refleksi Bangsa
Bencana besar yang baru-baru ini terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat membuka kembali lembaran problematik tersebut.
Curah hujan ekstrem memang kerap menjadi penjelasan pertama, tetapi data dan fakta lapangan secara konsisten menunjukkan bahwa kerusakan ekologis akibat deforestasi di kawasan pegunungan menjadi pemicu utama yang memperparah dampak bencana.
Di titik ini, krisis lingkungan tidak lagi sekadar persoalan teknis pengelolaan hutan, melainkan pertanda retaknya etika ekologis dalam masyarakat beragama.
Ekoteologi dan Retaknya Relasi Manusia-Alam
Indonesia kerap digambarkan sebagai negara yang berlandaskan nilai-nilai religius. Identitas keberagamaan melekat hampir di setiap aspek kehidupan sosial, mulai dari pendidikan, politik, hingga kebijakan pembangunan.
Namun, ketika alam semakin sering menampilkan wajah murkanya—dalam bentuk banjir besar hingga longsor muncul pertanyaan mendasar: sejauh mana nilai-nilai religius itu benar-benar tercermin dalam cara bangsa ini memperlakukan lingkungan?.
Pertanyaan tersebut membawa kita ke konsep ekoteologi, sebuah disiplin yang mempertemukan teologi dengan ekologi, iman dengan bumi, spiritualitas dengan keberlanjutan.
Ekoteologi melihat bahwa hubungan manusia dengan alam bukan sekadar hubungan pemanfaatan, tetapi hubungan moral yang berakar pada kesadaran bahwa seluruh ciptaan terhubung satu sama lain.
Alam tidak hanya dipandang sebagai sumber daya, melainkan entitas yang memiliki nilai intrinsik, nilai yang tak dapat ditakar semata-mata oleh kepentingan ekonomi.
Dalam banyak tradisi agama yang hidup di Indonesia, konsep ini sesungguhnya telah lama berakar. Agama-agama Abrahamik menekankan bahwa manusia adalah penjaga, bukan penguasa absolut.
Islam mengenalkan manusia sebagai khalifah fi al-ardh, makhluk yang diberi mandat untuk memelihara bumi. Dalam Kekristenan, konsep stewardship menjadi fondasi etis bahwa manusia bertanggung jawab merawat ciptaan Tuhan.
| Magnifica Humanitas sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI |
|
|---|
| Prabowonomics Mengubah Market Share Menjadi Market Power |
|
|---|
| Keberpihakan terhadap Ekologi Perspektif Sustainable Ethics dan Ekoteologi Kontekstual di Mamasa |
|
|---|
| Manipulasi Narasi Digital & Profesionalisme Penegakan Hukum: Melawan Arus Trial by Social Media |
|
|---|
| Momentum Pertumbuhan dan Tantangan Kualitas Belanja |
|
|---|