Sabtu, 11 April 2026

Hari Guru Nasional

Hari Guru Nasional, Sebuah Refleksi Bangsa

Romantisme terhadap profesi guru memang tumbuh dari sejarah panjang bangsa ini.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Hari Guru Nasional, Sebuah Refleksi Bangsa
DOK MUH YUSRANG
MUH. Yusrang, S.H Penyuluh Agama Islam – Kantor Kementerian Agama Kabupaten Mamuju Tengah 

Oleh: Muh Yusrang

SETIAP tanggal 25 November, ada gelombang kecil yang bergerak dalam ingatan banyak orang Indonesia, gelombang yang membawa kembali kenangan tentang guru.

Sosok yang mungkin dulu kita takuti, kita hormati, kita buat bangga, atau justru kita kecewakan.

Dalam momen peringatan Hari Guru Nasional, semua kenangan itu seperti kembali mengetuk hati, mengingatkan kita bahwa pendidikan tidak pernah berjalan tanpa manusia yang berdiri di baris paling depan: guru.

Selama bertahun-tahun kita memeluk erat satu ungkapan yang terasa begitu akrab: pahlawan tanpa tanda jasa. Ungkapan yang terdengar indah, seakan menempatkan guru di singgasana moral yang tinggi.

Baca juga: Guru Itu Kurikulum Suci

Namun perlahan, kita mulai menyadari bahwa kalimat ini tidak hanya memberi penghormatan, tetapi juga menyelipkan beban yang sering tidak kita sadari.

Romantisme terhadap profesi guru memang tumbuh dari sejarah panjang bangsa ini.

Di masa awal kemerdekaan, guru adalah benteng pertama literasi dan pengetahuan, sering kali bekerja tanpa fasilitas memadai. Dari sana, kita mengaitkan profesi ini dengan pengabdian.

Namun romantisme yang sama kerap membuat kita lupa bahwa guru juga manusia—yang bisa lelah, takut, marah, dan terluka.

Padahal, dari banyak tokoh dunia hingga pemikir pendidikan Indonesia, pandangan mereka tegas: guru harus dihargai bukan karena mereka “rela menderita”, melainkan karena mereka memegang peran paling strategis dalam membentuk masa depan masyarakat.

Paulo Freire, seorang pemikir pendidikan asal Brasil, dalam karyanya Pedagogy of the Oppressed (1970), menegaskan bahwa guru bukan sekadar penyampai informasi, tetapi “penggerak kesadaran”.

Ia percaya pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, dan guru adalah fasilitator yang membebaskan murid dari ketidaktahuan. Pandangan Freire mengingatkan kita bahwa guru bukan pahlawan pasif, tetapi agen perubahan yang memerlukan ruang aman untuk bekerja secara kreatif.

Dari Indonesia sendiri, Ki Hadjar Dewantara telah jauh lebih dulu menyampaikan gagasan serupa dalam konsep Among yang tertuang dalam berbagai karangannya, terutama dalam tulisan-tulisannya yang kemudian dihimpun dalam Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan: Pendidikan Ki Hadjar Dewantara.

Ia tidak pernah menggambarkan guru sebagai sosok yang harus rela menderita. Baginya, guru adalah pemimpin yang “tumbuhnya kekuatan kodrat pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.”

Pandangan itu menempatkan guru sebagai profesi strategis yang memerlukan dukungan, bukan sekadar apresiasi simbolik.

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved