Hari Guru Nasional
Hari Guru Nasional, Sebuah Refleksi Bangsa
Romantisme terhadap profesi guru memang tumbuh dari sejarah panjang bangsa ini.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/MUH-Yusrang-SH-Penyuluh-Agama-Islam-Kantor-Kementerian-Agama-Kabupaten-Mamuju-Tengah.jpg)
Oleh: Muh Yusrang
SETIAP tanggal 25 November, ada gelombang kecil yang bergerak dalam ingatan banyak orang Indonesia, gelombang yang membawa kembali kenangan tentang guru.
Sosok yang mungkin dulu kita takuti, kita hormati, kita buat bangga, atau justru kita kecewakan.
Dalam momen peringatan Hari Guru Nasional, semua kenangan itu seperti kembali mengetuk hati, mengingatkan kita bahwa pendidikan tidak pernah berjalan tanpa manusia yang berdiri di baris paling depan: guru.
Selama bertahun-tahun kita memeluk erat satu ungkapan yang terasa begitu akrab: pahlawan tanpa tanda jasa. Ungkapan yang terdengar indah, seakan menempatkan guru di singgasana moral yang tinggi.
Baca juga: Guru Itu Kurikulum Suci
Namun perlahan, kita mulai menyadari bahwa kalimat ini tidak hanya memberi penghormatan, tetapi juga menyelipkan beban yang sering tidak kita sadari.
Romantisme terhadap profesi guru memang tumbuh dari sejarah panjang bangsa ini.
Di masa awal kemerdekaan, guru adalah benteng pertama literasi dan pengetahuan, sering kali bekerja tanpa fasilitas memadai. Dari sana, kita mengaitkan profesi ini dengan pengabdian.
Namun romantisme yang sama kerap membuat kita lupa bahwa guru juga manusia—yang bisa lelah, takut, marah, dan terluka.
Padahal, dari banyak tokoh dunia hingga pemikir pendidikan Indonesia, pandangan mereka tegas: guru harus dihargai bukan karena mereka “rela menderita”, melainkan karena mereka memegang peran paling strategis dalam membentuk masa depan masyarakat.
Paulo Freire, seorang pemikir pendidikan asal Brasil, dalam karyanya Pedagogy of the Oppressed (1970), menegaskan bahwa guru bukan sekadar penyampai informasi, tetapi “penggerak kesadaran”.
Ia percaya pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, dan guru adalah fasilitator yang membebaskan murid dari ketidaktahuan. Pandangan Freire mengingatkan kita bahwa guru bukan pahlawan pasif, tetapi agen perubahan yang memerlukan ruang aman untuk bekerja secara kreatif.
Dari Indonesia sendiri, Ki Hadjar Dewantara telah jauh lebih dulu menyampaikan gagasan serupa dalam konsep Among yang tertuang dalam berbagai karangannya, terutama dalam tulisan-tulisannya yang kemudian dihimpun dalam Pemikiran, Konsepsi, Keteladanan: Pendidikan Ki Hadjar Dewantara.
Ia tidak pernah menggambarkan guru sebagai sosok yang harus rela menderita. Baginya, guru adalah pemimpin yang “tumbuhnya kekuatan kodrat pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya.”
Pandangan itu menempatkan guru sebagai profesi strategis yang memerlukan dukungan, bukan sekadar apresiasi simbolik.
| HGN 2025, Gubernur Sulbar Suhardi Duka: Guru Tak Tergantikan |
|
|---|
| Wabup Pasangkayu Beri Penghargaan 21 Guru Purna Bakti di Hari Guru Nasional 2025 |
|
|---|
| Guru SDN 066 Pekkabata Polman Saling Tukar Kado di Hari Guru Nasional 2025 |
|
|---|
| Guru Itu Kurikulum Suci |
|
|---|
| Wabup Pasangkayu Pimpin Upacara HGN 2025, Ajak Guru Terus Jadi Inspirasi Kemajuan Bangsa |
|
|---|