Hari Guru Nasional

Guru Itu Kurikulum Suci

Tantangan modernitas hampir semua dialami oleh seluruh elemen bangsa, termasuk guru.

Editor: Nurhadi Hasbi
dok Ilham Sopu
Ilham Sopu, salah satu cendikiawan Muslim asal Kabupaten Polman, Sulawesi Barat, sehari-hari sebagai pengajar di salah satu pondok pesantren di Pambusuang. 

Oleh : Ilham Sopu

TEMA hari guru tahun ini adalah "guru hebat, indonesia kuat", suatu tema yang memberikan amanah kepada guru untuk lebih meningkatkan kualitanya, kualitas guru adalah suatu keniscayaan dalam menciptakan suatu generasi yang unggul.

Dalam menciptakan suatu peradaban yang unggul ke depan, sedikit banyak peran guru sangat menentukan. Indonesia yang kuat adalah suatu cita-cita yang didambakan oleh generasi pendiri bangsa ini.

Guru tidak hanya mewariskan kepada anak didik keilmuan yang sifatnya kognitif yang berupa pengetahuan-pengetahuan yang bisa menambah kecerdasan secara intelektual anak didik, tetapi yang lebih dari itu adalah mewariskan karakter yang kuat berupa penguatan moral, etika, kecerdasan spritual dan kecerdasan emosional kepada peserta didik.

Baca juga: Keteladanan Gus Dur: Ulama Multidimensi, dari Pesantren hingga Peradaban Dunia

Dengan peran-peran tersebut, guru dituntut senantiasa untuk memperkuat keilmuan yang sifatnya kognitif lebih-lebih memperkuat karakter moralitas sebagai bekal dalam melakukan investasi dalam mencetak generasi yang handal, baik dari segi keilmuan dan karakter yang kuat terhadap nilai-nilai kebaikan.

Kurikulum yang sebenarnya ada dalam diri seorang guru, eksistensi guru adalah kurikulum yang berjalan, guru sebagai referensi yang senantiasa memberikan vibrasi keilmuan dan karakter keteladanan terhadap siswa. Rujukan tunggal para siswa di sekolah adalah guru.

Subyek dan obyek pendidikan itu sangat tergantung dari peran yang dimainkan oleh seorang guru. Pemerintah menciptakan kurikulum, tidak akan berjalan dengan baik, tanpa peran seorang guru yang punya keterampilan keilmuan dan punya karakter yang unggul.

Ada adagium dalam dunia pendidikan, "bagaimanapun bagus dan sempurnanya kurikulum, tapi diampuh oleh guru yang tidak punya kompetensi, itu akan mengalami kegagalan dalam pembelajaran, sebaliknya bagaimanapun sederhananya kurikulum tapi diampuh oleh guru yang punya kompetensi yang baik, itu akan membuat sukses dalam pembelajaran dan pendidikan akan berhasil".

Lagi-lagi guru sangat menentukan hidup matinya dunia pendidikan, tentu saja guru yang punya kompetensi yang komplit, dimulai kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi sosial, dan kepribadian. Keempat kompetensi adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.

Dalam dunia pendidikan setidaknya ada tiga yang menjadi warisan yang penting untuk diwariskan kepada anak didik, yaitu kemampuan kognitif, kemampuan afektik dan kemampuan psikomotorik.

Kemampuan kognitif punya peran penting dalam dunia pendidikan, ini adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki seorang siswa, wawasan ilmu pengetahuan, mutlak harus dimiliki seorang siswa, guru punya peran penting dalam memberikan motivasi atau dorongan terhadap peningkatan kompetensi kognitif yang harus dimiliki seorang siswa.

Evaluasi yang diadakan setiap semester maupun diakhir pembelajaran adalah untuk mengetahui kemampuan kognitif atau untuk mengetahui peta kemampuan pengetahuan yang telah diajarkan oleh seorang guru terhadap siswanya.

Disamping kemampuan kognitif yang menjadi warisan dari seorang guru, yang lebih penting dari itu kemampuan afektif, atau punya karakter yang kuat. Inilah sebenarnya pondasi yang dimilki seorang guru yang akan di nuzulkan kepada anak didik.

Afektif inilah yang menjadi benteng moral, yang sifatnya akan selalu memberikan respons yang positif terhadap dalam berbagai tantangan yang datang silih berganti.

Penguatan afektif adalah laboratorium moral yang akan mengeluarkan vibrasi kabaikan, disinilah sebenarnya kunci dalam dunia pendidikan. 

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved