Kamis, 4 Juni 2026

Opini

Keteladanan Gus Dur: Ulama Multidimensi, dari Pesantren hingga Peradaban Dunia

Semangat dalam pencarian ilmu, para ulama itulah yang menjadikan peradaban Islam masa lalu sangat maju

Tayang:
Editor: Abd Rahman
zoom-inlihat foto Keteladanan Gus Dur: Ulama Multidimensi, dari Pesantren hingga Peradaban Dunia
dok Ilham Sopu
Ilham Sopu, salah satu cendikiawan Muslim asal Kabupaten Polman, Sulawesi Barat, sehari-hari sebagai pengajar di salah satu pondok pesantren di Pambusuang. 

Oleh : Ilham Sopu

 

TRIBUN-SULBAR.COM- Tema sentral dalam temu Nasional Gusdurian adalah “meneladani Gus Dur, merawat Indonesia”, tema yang cocok dibahas pada hari ini, Gus Dur telah memberikan teladan, saatnya kita melanjutkan.

Para ulama identik dengan keilmuan, secara hirarkis ulama merupakan pewaris para Nabi, dalam salah satu hadis Nabi dikatakan bahwa ulama itu adalah pewaris para Nabi. Secara keilmuan para ulama mewarisi keilmuan dari para Nabi dan para sahabat Nabi. Semangat dalam mengais ilmu para ulama tidak pernah surut dalam kehidupannya. 

Semangat dalam pencarian ilmu, para ulama itulah yang menjadikan peradaban Islam masa lalu sangat maju, suatu peradaban keilmuan dan kualitas keimanan yang menjadi usungan para cerdik cendekia pada masa itu. Prof Syafi'i Ma'arif yang akrab dipanggil Buya Syafi'i, menyebut peradaban fikri dan dzikir.  Kedua model peradaban ini adalah model peradaban yang tahan banting sejarah.

Dengan menjadikan kedua model peradaban ini sebagai basis dalam membangun masyarakat, niscaya akan bertahan dan maju, seperti yang kita liat dalam peradaban masa kejayaan Islam.

Dalam konteks keindonesiaan, peran ulama dalam membangun peradaban keilmuan, berada di garda terdepan dalam memajukan model peradaban seperti diwariskan oleh ulama-ulama terdahulu. 

Setidaknya ada dua organisasi Islam yang banyak memberikan kontribusi terhadap kemajuan keilmuan di Indonesia, yaitu NU dan Muhammadiyah, disamping ada organisasi yang lain diluar kedua organisasi tersebut.

Kedua pendiri organisasi tersebut yaitu NU dan Muhammadiyah adalah ulama besar yang banyak mewarnai pemahaman keislaman di Indonesia, diantaranya adalah Gus Dur panggilan akrab KH Abdurrahman Wahid, dan Buya Syafii panggilan akrab Prof Dr Syafi'i Ma'arif, dan ulama-ulama atau cendekiawan-cendekiawan lainnya yang dimiliki kedua organisasi tersebut.

Di antara ulama dan cendekiawan yang paling familier di NU yaitu Gus Dur, banyak hal yang disandang atau prototipe seorang Gus Dur, ada yang menyebut Kyai, Ulama, Cendekiawan, Politikus, Budayawan, Seniman, pengamat bola, Sastrawan, tokoh kontroversial dan sebutan-sebutan lainnya. Label-label itu ada semuanya dalam diri seorang Gusdur, dia seorang ulama tradisional karena penguasaannya terhadap kitab-kitab klasik yang menjadi rujukan di pesantren-pesantren tradisional.

Gus Dur lahir di pesantren tradisional dan besar dalam pergumulan dengan kitab kuning yang menjadi dasar keilmuan pesantren-pesantren tradisional. Pengembaraan Gus dur dari satu pesantren ke pesantren yang lain adalah untuk menambah keilmuan yang ada di pesantren, karena antara satu pesantren dengan pesantren lainnya ada kesamaan dan ada perbedaan orientasi.

Hampir seluruh pesantren-pesantren tradisional punya kurikulum yang sama khususnya pembacaan kitab-kitab klasik seperti ilmu tata bahasa Arab, fiqh, hadis, ushul fiqh, tafsir. Itu adalah ilmu-ilmu dasar yang menjadi kurikulum inti dari pesantren tradisional dengan tetap menjadikan referensi atau rujukan oleh para pimpinan pesantren tradisional. Disinilah yang menjadi kekuatan alumni-alumni pesantren tradisional karena sangat terbiasa dengan pembacaan kitab-kitab klasik. Kelebihan yang dimiliki oleh seorang Gus Dur disamping penguasaan dengan referensi kitab-kitab klasik juga sangat familier dengan ilmu-ilmu sosial modern.

Gus Dur dikenal sangat kuat daya bacanya sejak di pesantren sampai pengembaraan intelektualnya ke luar negeri, dia tidak hanya mengkonsumsi buku-buku yang berbau agama tetapi buku-buku filsafat, sastra, seni, politik, budaya, dia baca. Itu yang menjadi orientasinya ketika berada di Mesir dan Irak sewaktu menuntut ilmu di sana.

Di Mesir, Gus dur lebih banyak menghabiskan waktunya di perpustakaan, daya otodidak dalam belajar sangat kuat dalam diri Gus dur, setelah merasa cukup di Mesir, Gus Dur lalu pindah ke Baghdad, salah satu kota yang dikenal sebagai pusat keilmuan pada waktu, Baghdad dikenal dalam sejarah sebagai pusat peradaban Islam pada masa Bani Abbasiyah, dan pernah mengalami kehancuran karena diserbu oleh tentara Mongol. Apa yang dilakukan Gus Dur di pusat peradaban itu adalah sama ketika berada di Mesir, memanfaatkan waktu yang sangat berharga untuk mendalami sejarah peradaban Islam khususnya kajian kesusasteraan Arab dan sejarah peradaban dunia.

Secara formal Gus Dur tidak menyelesaikan studi di perguruan tinggi seperti yang dilakukan oleh teman-temannya, tapi dia lebih tertarik mendalami keilmuan secara bebas lewat pembelajaran otodidak dan memanfaatkan daya kuat pembacaannya terhadap sesuatu ilmu. Itu adalah modal  besar yang dimiliki oleh Gus Dur,  karena tidak pernah kendor dalam pengkajian keilmuan, suatu warisan dari ulama-ulama terdahulu dalam semangat untuk memperdalam suatu keilmuan, dalam pencarian ilmu yang merupakan warisan dari berbagai ulama klasik pada zaman dulu, mereka melakukan perjalanan beratus-ratus kilometer hanya untuk menambah pundi-pundi keilmuan yang mereka miliki.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved