Opini
Krisis Ekoteologi di Negara Beragama
Bencana besar yang baru-baru ini terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat membuka kembali lembaran problematik tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/MUH-Yusrang-SH-Penyuluh-Agama-Islam-Kantor-Kementerian-Agama-Kabupaten-Mamuju-Tengah.jpg)
Ekologi yang Terkoyak dan Tanggung Jawab Negara
Bencana yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat beberapa waktu lalu memperlihatkan bagaimana kerusakan ekologis telah mencapai titik kritis.
Ketiga provinsi ini, yang berada di bentang Pegunungan Bukit Barisan, seharusnya memiliki kekuatan ekologis yang besar.
Hutan-hutan tropis yang rapat, pegunungan yang menjadi benteng alam, serta jaringan sungai yang mengalir dari hulu ke hilir adalah modal ekologis yang tak ternilai.
Namun, modal ekologis itu kini retak. Di Aceh, banjir bandang menjadi bencana yang berulang.
Hutannya yang dahulu lebat kini kehilangan sebagian besar tutupan vegetasinya akibat pembalakan liar, ekspansi perkebunan, dan alih fungsi lahan yang tidak terkendali.
Ketika hujan turun, air tak lagi meresap ke dalam tanah, melainkan langsung bergerak ke hilir membawa material kayu dan lumpur. Sungai-sungai yang dulunya jernih berubah menjadi arus keruh yang menghanyutkan apa saja di jalurnya.
Di Sumatera Utara, kerusakan ekologis terlihat jelas di kawasan hulu Danau Toba dan daerah pegunungan lainnya. Konversi hutan menjadi kebun monokultur menghilangkan vegetasi yang selama ini menjadi pengikat tanah.
Longsor menjadi ancaman yang semakin sering muncul, terutama saat hujan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut.
Tanah yang kehilangan pegangan bergerak cepat, menimbun rumah dan jalan dalam hitungan menit.
Di Sumatera Barat, kompleksitas bencana meningkat karena wilayah ini berada dalam lanskap gunung api aktif.
Aliran lahar dingin yang meluncur dari Gunung Marapi menjadi ancaman mematikan ketika vegetasi penahan di lereng gunung rusak.
Material vulkanik yang seharusnya tertahan oleh akar pohon kini mengalir deras saat hujan turun, menyapu permukiman warga dan merusak infrastruktur yang dilalui.
Bencana-bencana ini bukan sekadar gejala alam. Ia lahir dari intervensi manusia yang mengubah struktur ekologis pegunungan, merusak keseimbangan hidrologis, dan menurunkan daya tahan alam.
Dengan kata lain, apa yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat adalah gambaran bagaimana manusia merusak sistem yang selama ini melindunginya.
| Magnifica Humanitas sebagai Seruan Moral di Tengah Revolusi AI |
|
|---|
| Prabowonomics Mengubah Market Share Menjadi Market Power |
|
|---|
| Keberpihakan terhadap Ekologi Perspektif Sustainable Ethics dan Ekoteologi Kontekstual di Mamasa |
|
|---|
| Manipulasi Narasi Digital & Profesionalisme Penegakan Hukum: Melawan Arus Trial by Social Media |
|
|---|
| Momentum Pertumbuhan dan Tantangan Kualitas Belanja |
|
|---|