Opini
Humor yang Tergerus, Persaudaraan yang Renggang
Dalam filsafat klasik, Aristoteles menyinggung fungsi humor dalam drama komedi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/alim-Ismail.jpg)
Oleh : Nur Salim Ismail
TRIBUN-SULBAR.COM- Dalam riuh rendah kehidupan berbangsa, ada sesuatu yang perlahan menghilang: nuansa humor yang menyejukkan. Dulu, bangsa ini dikenal ramah, cair, dan penuh guyonan. Tawa bukan hanya bagian dari hiburan, melainkan juga jembatan persaudaraan. Kita bisa menyaksikan betapa warung kopi, lapangan bola, hingga perbincangan sederhana antar tetangga, selalu diwarnai kelakar yang membuat hidup terasa lebih ringan.
Namun kini, suasana itu semakin tergerus. Kita makin sering menyaksikan betapa mudahnya masyarakat tersulut amarah. Sebuah kalimat dapat dianggap penghinaan, sebuah candaan kadang berubah menjadi konflik panjang. Jika pun masih ada humor, ia kerap meluncur sebagai sindiran tajam, olok-olok yang menyakitkan, atau bahan politik yang mengadu-domba. Humor yang dulu menguatkan, kini tak jarang menjadi pemecah.
Dalam filsafat klasik, Aristoteles menyinggung fungsi humor dalam drama komedi. Sama seperti tragedi yang memberi catharsis, pelepasan emosional, humor juga membantu manusia melepaskan beban batin. Saat kita tertawa, sebenarnya kita sedang melepaskan ketegangan, mengembalikan keseimbangan jiwa. Sigmund Freud, berabad-abad kemudian, menyebut humor sebagai mekanisme pertahanan jiwa: sebuah jalan halus untuk bertahan dari kesedihan dan tekanan hidup.
Sayangnya, hari ini fungsi humor itu nyaris hilang. Tawa yang muncul justru sering memperberat hati, bukan meringankan. Alih-alih menenangkan, humor kita sering kali memperuncing luka. Inilah ironi besar dalam kehidupan berbangsa kita yang makin melebar lukanya.
Sosiolog Henri Bergson melihat humor sebagai refleksi dari ketidakselarasan hidup manusia. Kita tertawa karena menemukan sesuatu yang janggal. Namun, Bergson mengingatkan: humor yang sehat lahir dari jarak emosional, dari kemampuan menjaga agar tawa tidak berubah menjadi serangan.
Mikhail Bakhtin, seorang filsuf Rusia, bahkan menyebut humor sebagai carnival. Dalam tradisi rakyat, tawa adalah ruang egaliter, semua orang setara, semua hirarki luluh, semua bisa merasa sama. Dalam momen tertawa bersama, kita tidak lagi peduli siapa kaya siapa miskin, siapa penguasa siapa rakyat. Kita semua hanyalah manusia yang sama-sama dapat tergelincir dan menertawakan kebodohan kita sendiri.
Namun, apa yang terjadi kini? Humor lebih sering digunakan sebagai senjata politik, sebagai bahan ejekan untuk menegaskan “aku lebih benar daripada kamu”. Alih-alih mencairkan sekat, humor justru mempertebal jarak. Psikologi modern banyak mengkaji humor. Martin Seligman, tokoh psikologi positif, menempatkan humor sebagai salah satu kekuatan karakter yang membantu manusia bertahan dan berkembang. Humor bukan sekadar hiburan, tetapi juga tanda ketangguhan mental. Orang yang bisa tetap tertawa dalam kesulitan adalah orang yang punya daya lenting luar biasa.
Rod Martin, peneliti humor terkemuka, membedakan beberapa jenis humor. Ada affiliative humor; yakni humor yang mengikat, membuat orang merasa diterima dan terhubung. Ada pula self-enhancing humor; yaitu kemampuan menertawakan diri sendiri dengan lapang dada. Sebaliknya, ada aggressive humor dalam arti sebagai humor yang merendahkan orang lain, dan self-defeating humor; humor yang menyakiti diri sendiri demi menyenangkan orang lain.
Bangsa yang dewasa mestinya menumbuhkan humor yang mengikat, bukan humor yang menyerang. Sebab humor yang sehat membuat kita lebih tahan terhadap perbedaan, lebih siap menghadapi guncangan hidup, dan lebih berlapang dada ketika berselisih.
Dalam tradisi Islam, Nabi Muhammad saw dikenal memiliki selera humor. Namun humor beliau selalu lembut, penuh kasih, dan tidak pernah melukai. Ada riwayat bahwa beliau pernah bergurau dengan seorang nenek yang meminta didoakan masuk surga. Nabi menjawab: “Tidak ada orang tua di surga.” Nenek itu terkejut, lalu Nabi tersenyum dan menambahkan: “Karena semua orang akan masuk surga dalam keadaan muda.” Humor yang lahir dari kasih sayang, menenangkan, dan memberi harapan.
Leluhur kita pun meninggalkan jejak humor yang sarat kebijaksanaan. Tokoh Semar dalam pewayangan, Abu Nawas dalam kisah klasik, atau Pak Belalang dalam cerita rakyat, semuanya menghadirkan tawa sekaligus pesan moral. Humor mereka adalah humor penyembuh, menyindir tanpa menghina, mengkritik tanpa melukai.
Namun hari ini, warisan itu kian kabur. Humor sering kali diubah menjadi senjata, bukan perekat. Kita melupakan bahwa tawa adalah jalan untuk menjaga jiwa bangsa tetap sehat.
Mengapa bangsa ini begitu mudah tersinggung? Jawabannya mungkin ada pada rapuhnya kelapangan jiwa. Masyarakat yang terlalu penuh amarah akan mudah mencari musuh, dan humor yang mestinya jadi ruang lega justru dipakai untuk melampiaskan kemarahan.
| Infodemik Dukono Ketika Konten Viral Mengalahkan Peringatan Bencana |
|
|---|
| Penguatan Dolar Amerika Serikat dan Tantangan Ketahanan Ekonomi Sulawesi Barat |
|
|---|
| Pendidikan Buka Pasar |
|
|---|
| Menanti Pembuktian "Assa" untuk Petani Polman |
|
|---|
| Kado Ulang Tahun Duta Sheila On 7: Single Baru atau Keteladanan yang Tak Pernah Usang? |
|
|---|