Opini
Merawat Nilai Perjuangan di Tengah Arus Zaman
Nilai perjuangan bukan sekadar kisah masa lalu yang kita dengarkan saat peringatan 17 Agustus.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Furqan-Mawardi-for-Tribun-sulbar.jpg)
Guru, dosen, dan para pembina bangsa bukan hanya memindahkan ilmu dari buku ke kepala, tetapi menanamkan akhlak, membentuk karakter, dan menumbuhkan daya juang pada murid-muridnya.
Setiap lembar tugas yang mereka periksa, setiap waktu tambahan yang mereka habiskan untuk mendampingi siswa, adalah bagian dari perjuangan yang tidak kalah mulia dibanding para pahlawan di medan tempur.
Bagi keluarga, nilai perjuangan adalah kekompakan suami dan istri dalam menghadapi gelombang kehidupan.
Bahtera rumah tangga pasti diuji badai, namun jika nilai perjuangan tertanam kuat, mereka akan saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan.
Seperti kapal yang tetap berlayar meski ombak menghantam, keluarga yang dibangun dengan nilai perjuangan akan tetap kokoh hingga sampai ke tujuan.
Bagi para pelajar, nilai perjuangan berarti belajar dengan kesungguhan dan keikhlasan.
Menyadari bahwa setiap jam yang dihabiskan di depan buku, setiap ujian yang dihadapi dengan jujur, adalah bagian dari kontribusi untuk masa depan bangsa.
Belajar bukan hanya demi nilai di rapor, tetapi demi menjadi generasi penerus yang sanggup melanjutkan estafet perjuangan.
Hari ini, bentuk penjajahan memang berbeda. Ia tidak datang dengan senjata dan meriam, tetapi dengan kemalasan, korupsi, kebohongan, perpecahan, dan hilangnya kepedulian.
Melawan itu semua membutuhkan jiwa yang ditempa oleh nilai perjuangan.
Kemerdekaan sejati tidak hanya diukur dari bebasnya kita berjalan di tanah kita sendiri, tetapi dari kesediaan kita menghidupkan kembali semangat berkorban dan bekerja keras demi kebaikan bersama. Seperti kata Bung Karno,
“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah. Perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”
Maka, marilah kita merawat nilai perjuangan itu. Mulailah dari diri sendiri, dari rumah kita, dari meja kerja kita, dari kelas kita, hingga meluas ke seluruh negeri.
Karena bangsa yang melupakan nilai perjuangan adalah bangsa yang sedang berjalan menuju kemundurannya sendiri.(*)
| Menanti Pembuktian "Assa" untuk Petani Polman |
|
|---|
| Kado Ulang Tahun Duta Sheila On 7: Single Baru atau Keteladanan yang Tak Pernah Usang? |
|
|---|
| Mamasa: Karnaval di Atas Tangisan Epilepsi |
|
|---|
| Menimbang Energi Nuklir: Perspektif Hukum Tata Negara dalam Penguatan Kebijakan Energi Nasional |
|
|---|
| Man Behind the Gun Trump: The Domino Effect Reaching Indonesia |
|
|---|