Opini
Merawat Nilai Perjuangan di Tengah Arus Zaman
Nilai perjuangan bukan sekadar kisah masa lalu yang kita dengarkan saat peringatan 17 Agustus.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Furqan-Mawardi-for-Tribun-sulbar.jpg)
Oleh: Furqan Mawardi
(Dosen Universitas Muhammadiyah Mamuju)
KEMERDEKAAN yang kita nikmati hari ini bukanlah hadiah yang jatuh dari langit.
Ia adalah hasil dari tetesan keringat, cucuran air mata, dan darah para pejuang yang rela mempertaruhkan segalanya demi sebuah cita-cita mulia, Merdeka!!.
Mereka menempuh jalan panjang yang penuh risiko, tanpa jaminan akan pulang, demi memastikan bahwa anak cucu mereka kelak hidup tanpa rantai penjajahan.
Kini, kita telah berhasil mengusir penjajah. Tidak ada lagi kapal perang di pelabuhan kita, tidak ada lagi meriam yang berjatuhan di negara kita.
Namun, pertanyaan besarnya adalah apakah kita benar-benar merdeka jika nilai perjuangan para pendahulu kita perlahan pudar dari hati kita?
Nilai perjuangan bukan sekadar kisah masa lalu yang kita dengarkan saat peringatan 17 Agustus.
Ia adalah ruh yang seharusnya hidup dalam setiap denyut kehidupan bangsa ini.
Ia adalah nyala api yang harus dirawat oleh setiap pemimpin, pendidik, orang tua, bahkan pelajar, agar kemerdekaan ini tidak hanya menjadi tanggal di kalender, tetapi menjadi napas dalam setiap langkah kita.
Untuk itu nilai perjuangan harus tetap hidup dalam setiap relung kehidupan kita.
Spirit perjuangan ini mesti selalu hadir diantara beberapa kalangan, diantaranya :
Bagi para pemimpin, nilai perjuangan berarti menempatkan kepentingan rakyat di atas segalanya.
Ia adalah kesediaan berkorban waktu, tenaga, bahkan kenyamanan pribadi demi memastikan rakyat yang dipimpinnya sejahtera.
Seorang pemimpin sejati tidak mencari panggung untuk dirinya, tetapi menjadi pelita di tengah gelap, menyalakan harapan meski harus mengorbankan apinya sendiri.
Bagi para pendidik, nilai perjuangan berarti mengabdikan diri untuk mencetak generasi terbaik, bukan sekadar mengajar.
Guru, dosen, dan para pembina bangsa bukan hanya memindahkan ilmu dari buku ke kepala, tetapi menanamkan akhlak, membentuk karakter, dan menumbuhkan daya juang pada murid-muridnya.
Setiap lembar tugas yang mereka periksa, setiap waktu tambahan yang mereka habiskan untuk mendampingi siswa, adalah bagian dari perjuangan yang tidak kalah mulia dibanding para pahlawan di medan tempur.
Bagi keluarga, nilai perjuangan adalah kekompakan suami dan istri dalam menghadapi gelombang kehidupan.
Bahtera rumah tangga pasti diuji badai, namun jika nilai perjuangan tertanam kuat, mereka akan saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan.
Seperti kapal yang tetap berlayar meski ombak menghantam, keluarga yang dibangun dengan nilai perjuangan akan tetap kokoh hingga sampai ke tujuan.
Bagi para pelajar, nilai perjuangan berarti belajar dengan kesungguhan dan keikhlasan.
Menyadari bahwa setiap jam yang dihabiskan di depan buku, setiap ujian yang dihadapi dengan jujur, adalah bagian dari kontribusi untuk masa depan bangsa.
Belajar bukan hanya demi nilai di rapor, tetapi demi menjadi generasi penerus yang sanggup melanjutkan estafet perjuangan.
Hari ini, bentuk penjajahan memang berbeda. Ia tidak datang dengan senjata dan meriam, tetapi dengan kemalasan, korupsi, kebohongan, perpecahan, dan hilangnya kepedulian.
Melawan itu semua membutuhkan jiwa yang ditempa oleh nilai perjuangan.
Kemerdekaan sejati tidak hanya diukur dari bebasnya kita berjalan di tanah kita sendiri, tetapi dari kesediaan kita menghidupkan kembali semangat berkorban dan bekerja keras demi kebaikan bersama. Seperti kata Bung Karno,
“Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah. Perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.”
Maka, marilah kita merawat nilai perjuangan itu. Mulailah dari diri sendiri, dari rumah kita, dari meja kerja kita, dari kelas kita, hingga meluas ke seluruh negeri.
Karena bangsa yang melupakan nilai perjuangan adalah bangsa yang sedang berjalan menuju kemundurannya sendiri.(*)
| Infodemik Dukono Ketika Konten Viral Mengalahkan Peringatan Bencana |
|
|---|
| Penguatan Dolar Amerika Serikat dan Tantangan Ketahanan Ekonomi Sulawesi Barat |
|
|---|
| Pendidikan Buka Pasar |
|
|---|
| Menanti Pembuktian "Assa" untuk Petani Polman |
|
|---|
| Kado Ulang Tahun Duta Sheila On 7: Single Baru atau Keteladanan yang Tak Pernah Usang? |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.