Opini
Menderu Tanpa Menggerutu di Tahun Ajaran Baru
Harapan membuncah pada mekanisme pembelajaran untuk lebih bermakna patut menjadi perhatian tersendiri bagi insan di dalamnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Mukhlis-Mustofa-Dosen-PGSD-FKIP-Universitas-Slamet-Riyadi-Surakartat.jpg)
Kontrol sosial pada sekolah pun lebih pada mekanisme balas dendam penyelenggaraan.
Neil Postman dalam The End of Education menyoroti sekolah sedemikian jumud pada perkembangan sehingga kebaruan dan pencerahan tidak kunjung tiba.
Hal inilah yang terkadang dilupakan pihak terkait. Orang tua menganggap sekolah sebagai bengkel, publik sangat berharap sekolah indah, namun laku edukatif tidak diupayakan.
Publik lebih rewel pada permasalahan bangunan sekolah yang mengganggu tampilan kenyamanan kampung, sementara orang tua sangat nyinyir pada pembiayaan yang membumbung.
Pertemuan orang tua di sekolah sendiri diemohi karena dipersepsikan sekadar penarikan dana kegiatan.
Akhirnya, jika ada peristiwa, mereka langsung memviralkan. Pelurusan mainstream ini mutlak diperlukan mengingat apa pun kebijakan pendidikan yang diambil, manakala mainstream-nya belum jelas, kebijakannya pun teramat ambigu.
Sekolah membumi merupakan tuntutan di tengah beragamnya permasalahan sosial yang melanda saat ini.
Sekolah sebagai salah satu pola pembelajaran tidak serta-merta menyelesaikan carut-marut pendidikan di negeri ini tanpa ada kesadaran bersama untuk mengelola pendidikan dalam arah konstruktif.
Proporsionalitas hubungan antara kedua belah pihak ini mutlak menjadi keniscayaan dalam pengelolaan lembaga pendidikan modern. (*)