Opini
Menderu Tanpa Menggerutu di Tahun Ajaran Baru
Harapan membuncah pada mekanisme pembelajaran untuk lebih bermakna patut menjadi perhatian tersendiri bagi insan di dalamnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Mukhlis-Mustofa-Dosen-PGSD-FKIP-Universitas-Slamet-Riyadi-Surakartat.jpg)
Oleh: Mukhlis Mustofa
(Dosen Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Slamet Riyadi (UNISRI) Surakarta)
TANPA terasa, momentum awal tahun ajaran baru terwarnai dengan beberapa penyikapan.
Ekspektasi beragam menyikapi dimulainya tahun ajaran baru di negeri ini melanda siswa berikut orang tua dengan euforia sedemikian rupa.
Carut-marut selama proses Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB), penentuan seragam, hingga tuntutan pembelajaran lebur dengan dimulainya tahun ajaran baru.
Hari-hari pertama memasuki tahun ajaran baru selayaknya dapat berfungsi sebagai tonggak awal pembelajaran satu tahun mendepan.
Harapan membuncah pada mekanisme pembelajaran untuk lebih bermakna patut menjadi perhatian tersendiri bagi insan di dalamnya.
Secara berkebetulan, awal tahun ajaran baru berada di periode awal tahun Hijriah.
Semangat kesucian patut diapresiasi tersendiri bagi pelaku maupun konsumen pendidikan untuk menyusun efektivitas pembelajaran.
Konsekuensi ini selayaknya menjadi perhatian tersendiri mengingat keberadaan tahun ajaran baru sebagai tonggak proses pembelajaran saat ini diposisikan sekadar ritual pendidikan semata, sementara esensi pencerdasan belum sepenuhnya tampak.
Selayaknya, awal tahun ajaran baru dapat menjadi starting point pembelajaran satu tahun mendepan.
Tataran riil masyarakat banyak dijumpai, aksesibilitas pendidikan sebatas bagaimanakah keterjangkauan pembiayaan pendidikan yang terkadang berkebalikan dengan realitas pendidikan bersangkutan.
Di balik fenomena pendidikan di atas memunculkan sebuah pertanyaan tersendiri: bagaimanakah selayaknya memosisikan keberadaan tahun ajaran baru dalam pemberdayaan pendidikan seutuhnya?
Kegiatan pembelajaran tatap muka menjadi sedemikian dirindukan dari segenap aspek terkait pendidikan tersebut, baik dari sisi guru, siswa, berikut orang tuanya.
Gambaran keunggulan pembelajaran tatap muka seakan menunjukkan betapa sekolah telah menyihir segenap elemen publik.