Kamis, 4 Juni 2026

Opini

Menderu Tanpa Menggerutu di Tahun Ajaran Baru

Harapan membuncah pada mekanisme pembelajaran untuk lebih bermakna patut menjadi perhatian tersendiri bagi insan di dalamnya.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Menderu Tanpa Menggerutu di Tahun Ajaran Baru
Istimewa
OPINI - Mukhlis Mustofa, Dosen PGSD FKIP Universitas Slamet Riyadi Surakartat 

Awal mula pembelajaran menjadi wacana menarik di negeri dalam beragam ranah.

Fenomena ini nampaknya sudah diprediksi dengan karya best seller Roem Topatimasang, "Sekolah Itu Candu" medio 1998.

Buku berisi hakikat peserta didik terbius dengan sekolah sehingga tidak jarang melupakan fenomena sosial di sekelilingnya perlahan-lahan mulai menuai hasilnya.

Khalayak negeri ini nampaknya sedemikian akut sudah terjangkiti candu sekolah ini sehingga seluruh hakikat kualitas pendidikan berpusat pada sekolah.

Merujuk definisi sekolah dalam pembukaan buku tersebut, dinyatakan sekolah berasal dari etimologis Yunani Skhole, Scola, Scolae, atau Schola yang secara harfiah berarti waktu luang atau waktu senggang—terjemah: waktu senggang untuk belajar.

Konteksnya, pada masa pascapandemi ini sekolah selayaknya tidak hadir secara formal, namun hadir dalam segala tindakan keseharian. 

Publik masih ternganga dengan penyelenggaraan sekolah selama ini dengan sederet formalitas dan mematikan kebebasan belajar, sehingga manakala pandemi muncul, permasalahan formalitas dibandingkan esensi sekolah.

Hakikat pendidikan utama selayaknya diperankan orang tua dengan sepenuh hati mengajarkan dan menanamkan pengetahuan bagi sang buah hati.

Namun, hakikat suci terbantahkan dengan mekanisme pasrah bongkokan sehingga orang tua merasa “terpenjara” dengan penyikapan kebijakan pendidikan selama ini dan pernah terjadi di masa pandemi beberapa saat silam. 

Pesona indah sekolah ini menjadikan arah penyelenggaraan pendidikan dibawa pada mekanisme seluruh waktu siswa untuk menghabiskan segenap waktunya di pendidikan formal.

Konteks sosiologis yang harus dikonstruksikan sebenarnya teramat jelas: sekolah sebagai salah satu entitas budaya masyarakat selayaknya menjadi stimulus budaya kekinian, bukan penggiringan opini kebenaran absolut.

Perspektif cerdasnya, sekolah bukanlah segala-galanya dalam menentukan karakter bangsa.

Persepsi inilah yang selayaknya harus diluruskan semua pihak sehingga kesetaraan peran mengemuka dibandingkan membawa diskursus pendidikan tak berkesudahan.

Proporsionalitas Pendidikan

Persepsi ini sedemikian kuat terbuka mengingat pembelajaran di negeri ini tersandera pada gebyar pelaksanaan, namun esensinya sangat jauh dari harapan.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved