Selasa, 19 Mei 2026

Pengangguran

Pendidikan Tinggi, Sulit Dapat Kerja, Ini Kisah Sarjana di Indonesia dan China

Kondisi ini mencerminkan minimnya peluang kerja yang sesuai dengan jenjang pendidikan tinggi yang mereka miliki

Tayang:
Editor: Abd Rahman
zoom-inlihat foto Pendidikan Tinggi, Sulit Dapat Kerja,  Ini Kisah  Sarjana  di  Indonesia dan China
AI Gemini
ILUSTRASI SARJANA PENGANGGURAN AI - Sejumlah negara seperti Indonesia dan China tengah menghadapi krisis ketenagakerjaan. Di Indonesia sendiri, terdapat lebih dari 1 juta sarjana yang menganggur. 


TRIBUN-SULBAR.COM - Ternyata Indonesia dan China kini sama-sama menghadapi krisis ketenagakerjaan serius, di mana jutaan sarjana di kedua negara tersebut bergelut dengan pengangguran. 

Kondisi ini mencerminkan minimnya peluang kerja yang sesuai dengan jenjang pendidikan tinggi yang mereka miliki.

Hal ini memaksa para lulusan universitas untuk mencari solusi tak terduga demi bertahan hidup.

Di Indonesia, tercatat lebih dari 1 juta sarjana menganggur

Anggota Komisi X DPR, Nurhadi, menyatakan keprihatinannya dan menyebut ini sebagai kegagalan sistem pendidikan dalam menyediakan kesempatan kerja yang layak. 

"Ini ironi besar di tengah bonus demografi yang katanya menjadi peluang untuk Indonesia Emas," ujar Nurhadi, seperit dilansir dari Kompas.com, Rabu (9/7/2025).

Baca juga: Pengangguran di Sulbar 20 Ribu Orang Gen Z Usia 20-24 Tahun Penyumbang Terbesar

Baca juga: 215 Honorer Polman Lulus Seleksi PPPK Tahap II, 194 Guru dan 20 Nakes: Nama Anda Masuk?

Meskipun anggaran pendidikan mencapai triliunan rupiah, hasil yang didapat belum sebanding dengan ketersediaan lapangan kerja bagi para lulusan.

Salah satu kisah yang menyorot perhatian adalah Musarotun (29), seorang sarjana akuntansi di Jakarta yang terpaksa mendaftarkan diri sebagai petugas PPSU (Penanganan Prasarana dan Sarana Umum). 

Musarotun, yang sebelumnya merupakan ibu rumah tangga, memilih pekerjaan ini karena keterbatasan peluang di dunia kerja formal. 

"Daftar PPSU harapannya untuk kemajuan ekonomi keluarga," paparnya. 

Gaji yang didapatkannya, meski tidak besar, cukup untuk menopang kebutuhan keluarga, menjadikan pekerjaan informal sebagai pilihan di tengah sulitnya mencari pekerjaan yang sesuai dengan latar belakang pendidikan.

Fenomena serupa terjadi di China, di mana tingkat pengangguran di kalangan anak muda mencapai 15,8 persen pada April 2025. 

Krisis ini mendorong mereka mencari solusi yang tidak biasa. Beberapa di antaranya memilih menjadi "cucu penuh waktu", di mana mereka dibayar untuk merawat dan memberikan dukungan emosional kepada kakek-nenek, serta mengurus keperluan harian lansia. 

Seorang perempuan berusia 26 tahun mengungkapkan bahwa merawat kakeknya memberikan kehidupan yang lebih stabil dibandingkan mencari pekerjaan yang tidak pasti di luar sana.

 "Jika kamu merawatku dengan baik dan membantuku hidup beberapa tahun lagi, itu lebih baik daripada apa pun yang dapat kamu lakukan di luar sana," kata sang kakek, dikutip dari Kompas.com, Senin (7/7/2025).

Sumber: Kompas.com
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved