Ricuh Eksekusi Lahan

‎Belum Sadar Sepenuhnya Sejak Ricuh Eksekusi Lahan, Keluarga Kapus Alu Akan Tempuh Jalur Hukum

Sudah tiga hari berlalu sejak kejadian, namun Jamaluddin masih terbaring lemah dan belum sepenuhnya sadar.

Penulis: Anwar Wahab | Editor: Nurhadi Hasbi
Pemprov Sulbar
Jenguk Korban - Wakil Gubernur Sulawesi Barat, Salim S Mengga menjuenguk kepala Puskesmas Alu, Jamalddin (55) yang saat ini sedang dirawat dirumah sakit Umum Hajja Andi Depu Polewali Mandar, Minggu (6/7/2025). Jamaluddin diduga korban salah tangkap aparat keamanaan dalam peristiwa eksekusi tanah di Dusun Palludai Desa Katumbangan Lemo, Kecamatan Campalagian, Polewali Mandar pada Kamis (3/7/2025) lalu. 

TRIBUN-SULBAR.COM, POLMAN – Kondisi mengenaskan menimpa Kepala Puskesmas (Kapus) Alu, Jamaluddin (55), usai insiden ricuh dalam proses eksekusi lahan di Desa Katumbangan Lemo, Kecamatan Campalagian, Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat.

Sudah tiga hari berlalu sejak kejadian, namun Jamaluddin masih terbaring lemah dan belum sepenuhnya sadar.

Ia kini dirawat intensif di RSUD Hajja Andi Depu Polman akibat luka serius di bagian kepala yang mengharuskannya menjalani operasi.

Baca juga: Jenguk Kapus Alu Korban Salah Tangkap Wagub Salim Minta Jangan Lagi Terjadi Kekerasan Giat Eksekusi

Saudara korban, Awaluddin menyebut, saat ini fokus utama adalah pemulihan kondisi fisik dan daya ingat korban, yang disebut masih kacau bahkan sempat tak mengenali keluarganya sendiri.

“Kami sangat terpukul. Pak Jamaluddin sampai hari ini belum sadar penuh. Bahkan sempat tak mengenali siapa yang datang menjenguknya,” ujar Awaluddin saat dikonfirmasi Tribun-Sulbar.com via telepon, Senin (7/7/2025).

Di tengah situasi yang masih berat, keluarga mengaku terus menjalin komunikasi dengan organisasi profesi PPNI serta mengumpulkan keterangan dari istri korban dan sejumlah saksi mata di lokasi kejadian.

“Kami tak tinggal diam. Jalur hukum sangat mungkin kami tempuh. Kami ingin tahu kenapa Pak Jamaluddin, yang bukan provokator, justru menjadi korban paling parah,” tegas pihak keluarga.

Dugaan salah tangkap dalam eksekusi lahan yang berujung rusuh itu kini makin menguat, apalagi korban disebut tidak terlibat langsung dalam kericuhan.

Keluarga menilai ada tindakan berlebihan dari aparat saat proses pengamanan.

“Kami hanya ingin keadilan. Tidak ada satu pun warga sipil yang pantas diperlakukan brutal seperti ini,” tambahnya.

Keluarga berharap ada perhatian serius dari aparat penegak hukum dan pemerintah daerah, agar kejadian serupa tak kembali terulang, terutama terhadap warga yang tidak bersalah.(*)

Laporan wartawan Tribun-Sulbar.com, Anwar Wahab.

Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved