Opini
Idhul Adha Refleksi Gaya Hidup Kita
Permaslahan ini nampaknya menjadi permasalahan up to date sedemikain mnarik tergambarkan di kalangan ummat Islam mulai Segala bentuk peribadatan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Mukhlis-Mustofa.jpg)
Dalam sebuah forum tanya jawab pengajian di masjid pernah terlontar pertanyaan dari jama’ah bagaimanakah parameter kemampuan berudhiyah seseorang ditengah beragam kebutuhan yang harus dipenuhi sehari–hari ?, oleh ustadz bersangkutan pertanyaan tersebut tersirat dijawab bahwa hal itu disesuaikan dengan suasana hati ummat bersangkutan.
Permasalahan standar kemampuan melaksanakan udhiyah merupakan persoalan senantiasa aktual di kalangan ummat menjelang pelaksanaan idhul adha. Jawaban dikembalikan pada hati pribadi bersangkutan kerapkali dikedepankan manakala pertanyaan tersebut muncul.
Ibadah pengorbanan
Keberadaan penyembelihan udhiyah menjadi permasalahan yang harus diseriusi mengingat permasalahan udhiyah ini bukan semata–mata dilandasi keteguhan hati namun pengorbanan harta ummat tidak sedikit.
Secara ekonomis dalam era kehidupan manusia modern terlebih masa pendemi penggunaan dana tersebut sedikit banyak berpengaruh pada tingkat perekonomian ummat.
Pada masa ini keluhan terdampak krisis menjadi generalisasi permasalahan walaupun terbantahkan dengan booming gowes hingga aksi borong komoditi. Logika terbalik ini memutar balikkan realitas kekinian, Manusia saat ini telah bermetamorfosis sedemikian sempurna menjadi homo economicus dengan paham mengeluarkan pengorbanan tertentu untuk mendapatkan hasil optimal.
Persepsi ini bukanlah sekedar isapan jempol mengingat pada masa pedemi ini ditemukan pula pihak dengan kesengajaan melakukan aksi borong untuk mendapat keuntungan berlipat.
Permasalahan hasil optimal ini teramat mudah parameternya manakala dihadapkan pada aspek material kasat mata namun implikasi dalam kehidupan spiritual seseorang masing memerlukan pemikiran tersendiri.
Era ini termasuk dalam era hedonisme dimana pengagungan material lebih dikedepankan. Ummat menjadi sedemikian permisif dengan nilai – nilai kebendaan sementara permasalahan keagamaan terabaikan Kontradiksi pun muncul sedemikian massif, khalayak menjadi risau manakala outfit nya bukan menggambarkan sisi kekinian, kendaraan tidak sesuai prestise dan pada akhirnya melupakan sisi religi yang memerlukan pembiayaan relative besar dalam hal ini ibadah kurban. .
Permasalahan udhiyah sendiri pada akhirnya masyarakat kita teramat bangga dengan beragam pencitraan didalamnya.
Penekanan lebih mengutamakan hati dan perasaan dalam berkorban menjadi dikedepankan walaupun pada akhirnya menjadi sedemikian naïf selama menjalankan peran peribadatan di muka bumi. Ummat sendiri lupa menjalankan aksi nyata mewujudkan amalan terbaik sebagai bekal di masa mendatang.
Dalam keseharian kontradiksi penyikapan ini muncul dengan kasat mata, ummat berupaya memenuhi kebutuhan berkaitan gaya hidup namun luput mengelola kebutuhan akhiratnya.
Ilustrasinya mereka mampu dan berupaya bersungguh – sungguh memiliki sepeda terbaru, mengejar outfit terkemuka dengan harga diluar nalar untuk memenuhi hasrat bersosialisasi dengan komunitasnya sementara untuk berkomunikasi dengan Allah Ta’ala dikesampingkan.
Mereka dengan mudahnya mengeluarkan dana jutaan rupiah bahkan hingga dengan jalan kredit baik kredit tunai maupun belanja aplikasi untuk mendapatkan sepeda impian sementara untuk diajak udhiyah mereka mengemukakan beragam alasan.
Teramat menggelikan manakala mendapati seorang mengemukakan alasan kenapa tidak berudhiyah tahun ini namun di status media sosialnya bangga dengan sepeda keluaran terbaru.