Opini
Idhul Adha Refleksi Gaya Hidup Kita
Permaslahan ini nampaknya menjadi permasalahan up to date sedemikain mnarik tergambarkan di kalangan ummat Islam mulai Segala bentuk peribadatan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Mukhlis-Mustofa.jpg)
Oleh:
Mukhlis Mustofa
Dosen PGSD FKIP Universitas Slamet Riyadi dan Konsultan Pendidikan Yayasan Pendidikan Jama'atul Ikhwan Surakarta
TRIBUN-SULBAR.COM - Musim Layangan orang pada beli layangan, Musim Burung Pada beli Burung Musim batu cincin pada beli batu cincin musim sepeda pada beli sepeda sekarang musim hewan Qurban eh malah belinya Tusuk Sate sama areng adalah sekelumit komentar jenaka di media sosial menjelang Idhul Adha 1446 ini.
Joke diatas dan beragam video pendek yang tersaji di media sosial menjadi oase ditengah hituk pikuk pelaksanaan Idhul Adha tahun ini.
Galibnya pelakasnaan lebaran haji Tahun ini terasa sangat berwarna, ditengah euphoria publik lepas dari masa pendemi Covid-19 ditambah dengan perbedaan pelaksnaan kapankah hari raya idhul adha sedemikian menarik untuk dinikmati.
Permaslahan ini nampaknya menjadi permasalahan up to date sedemikain mnarik tergambarkan di kalangan ummat Islam mulai Segala bentuk peribadatan harus dikonstruksikan sesuai protokol kesehatan, potensi Penyakit hewan kurban hingga polemik perbedaan waktu merupakan karakteristik menarik di tahun ini.
Patut disadari bahwa Gema idhul adha bagi kaum muslimin adalah upaya mendekatkan diri pada allah dengan melaksanakan ibadah haji bagi yang telah mendapatkan kesempatan.
Upaya konkrit lain dalam peribadatan Idhul adha adalah penyembelihan hewan ternak.
Dalam tulisan ini saya menggunakan istilah udhiyah tidak kurban sebagaimana dikenal pada konteks masyarakat Islam Indonesia mengingat secara etimologis penyebutan hewan yang disembelih adalah udhiyah.
Saya tidak akan mengajak pembaca untuk mendiskusikan penggunaan kata namun sejenak merenungkan bagaimanakah kita memaknai ibadah sesuai tuntunan nabi Ibrahin Alaihissalam ini.
Permasalahan penyembelihan hewan udhiyah ini menjadi diskusi menarik manakala permasalahan hawa nafsu diikutkan.
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah shalat karena Rabbmu; dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus” (QS. Al Kautsar: 1-3).
Surat tersebut diatas secara tersirat penyembelihan hewan erat kaitannya dengan syariat sholat sebagai kewajiban kaum muslimin.
Konsekuensi ini secara tidak langsung menjadikan penyembelihan hewan udhiyah termasuk keutamaan bagi seorang muslim.
Pertanyaannya sejauh manakah kaum muslimin mengejawantahkan perintah penyembelihan ini dalam mewarnai pelaksanaan Idhul Adha tiap tahunnya?.
Permasalahan peribadatan terutama dengan mengorbankan sebagian harta ummat terkadang memerlukan penekanan tersendiri sehingga ghirrah pelaksanaannya berlangsung optimal.