Senin, 1 Juni 2026

Opini

Mengapa Perpustakaan Jadi Prasyarat Fundamental Kemajuan IPM Suatu Bangsa?

Perpustakaan sesungguhnya adalah demokratisasi pengetahuan, sebuah entitas yang merupakan DNA primer peradaban.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Mengapa Perpustakaan Jadi Prasyarat Fundamental Kemajuan IPM Suatu Bangsa?
Istimewa
PENULIS - Adi Arwan Alimin 

Tiongkok menjadikan perpustakaan sebagai basis terbaik bagi guru, siswa, dan masyarakat dari seluruh kalangan untuk mempelajari pengetahuan baru, menguasai keterampilan baru, dan menyebarkan ide-ide baru.

Sila baca Study on the Interactive Effect Between Public Library Construction and Human Capital Investment Efficiency: Evidence From China dalam laman yang penulis kutip di atas.

Sebagian orang tua lebih bangga anaknya menjadi peringkat 1 di sekolah daripada rajin mengunjungi perpustakaan.

Paradigma ini telah menggeser fungsi perpustakaan dari pusat pembelajaran menjadi sekadar "taman bacaan untuk penghibur diri."

Revolusi Jabatan dan Gerakan Kultural Literasi

Saatnya kita melakukan revolusi jabatan dalam birokrasi. Jabatan strategis, terutama yang berkaitan dengan pendidikan dan kebudayaan, harus diisi oleh individu yang memiliki pemahaman mendalam tentang literasi.

Calon kepala dinas, misalnya, seharusnya wajib lolos Literacy Leadership Test yang mencakup kemampuan membaca peta buta aksara di wilayahnya dan memiliki portofolio nyata gerakan literasi yang pernah digagas serta diimplementasikan.

Atau lebih jauh lagi, perlu ada program pelatihan pustakawan sebagai knowledge curator. Sebab, pustakawan bukan sekadar penjaga buku, melainkan fasilitator pengetahuan yang mampu membimbing masyarakat dalam menemukan, memahami, dan mengaplikasikan informasi.

Ide ini bagian dari gerakan kultural literasi yang lebih besar, bahwa kita harus mengibarkan dan mengabarkan perang melawan buta aksara fungsional (gurusiana.id).

Buta aksara fungsional tidak lain adalah kondisi di mana seseorang secara teknis bisa membaca dan menulis, namun tidak mampu menggunakan kemampuannya untuk memahami informasi kompleks, berpikir kritis, atau berpartisipasi aktif dalam masyarakat.

Perpustakaan sebagai Aset Vital Bangsa

Sejarah telah berulang kali membuktikan bahwa perpustakaan adalah aset vital bagi sebuah peradaban.

Pengetahuan yang tersimpan di dalamnya adalah warisan tak ternilai yang membentuk identitas dan arah suatu bangsa.

Perihal paling tragis terjadi ketika tentara Mongol di bawah kepemimpinan Hulagu Khan menyerbu Baghdad pada tahun 1258 (cnbcindonesia.com).

Invasi tersebut tidak hanya menghancurkan kota dan menewaskan jutaan penduduk, tetapi juga meluluhlantakkan Perpustakaan Raya Baghdad atau Bait al-Hikmah (Rumah Kebijaksanaan) (republika.id).

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved