Opini
Mengapa Perpustakaan Jadi Prasyarat Fundamental Kemajuan IPM Suatu Bangsa?
Perpustakaan sesungguhnya adalah demokratisasi pengetahuan, sebuah entitas yang merupakan DNA primer peradaban.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/PENULIS-Adi-Arwan-Alimin.jpg)
Oleh: Adi Arwan Alimin
(Tokoh Literasi/Penulis)
PERPUSTAKAAN sering kali dipandang sebelah mata, sekadar gudang buku atau tempat rekreasi. Namun, persepsi itu adalah kekeliruan amat fatal yang harus segera diluruskan.
Temuan secara empiris dari berbagai studi mendemonstrasikan korelasi positif yang kuat antara investasi perpustakaan dengan produktivitas ekonomi jangka panjang, efisiensi investasi modal manusia, dan pembentukan masyarakat berpengetahuan inklusif.
Dari perspektif historis, inilah mengapa para cendekiawan menjadikan perpustakaan sebagai institusi yang vital bagi sebuah bangsa (ifla.org/units/national-libraries/).
Perpustakaan sesungguhnya adalah demokratisasi pengetahuan, sebuah entitas yang merupakan DNA primer peradaban.
UNESCO dan IFLA dalam dialog bersama tahun 2023 menegaskan, perpustakaan merupakan fondasi dalam membangun masyarakat berpengetahuan inklusif dan melestarikan warisan bersama umat manusia (unesco.org).
Paradigma ini menggarisbawahi peran strategis perpustakaan dalam demokratisasi pengetahuan dan kemajuan peradaban.
Siapa pun yang memegang tampuk kepemimpinan, baik di tingkat daerah maupun nasional, tidak boleh salah kaprah dalam memahami peran vital itu.
Hingga selama ini, kita seolah membiarkan masyarakat terjajah mentalitas sekolah.
Indikator keberhasilan pendidikan sering kali dipersempit pada capaian nilai akademis dan peringkat, alih-alih pada minat belajar dan budaya literasi.
Di Indonesia, survei Tribunnews (2016) mengungkapkan 84 persen orang tua memberikan hadiah spesifik untuk nilai ujian, sementara hanya 12 persen yang memberi apresiasi setara untuk aktivitas sosial anaknya (serambinews.com).
Studi Digital Commons menjelaskan 70 persen orang tua memandang perpustakaan sebagai "suplemen" pendidikan formal, bukan sebagai komponen inti (digitalcommons.unl.edu).
Tulisan ini tentu belum menjangkau cakupan lebih luas, tetapi kita berharap agar tidak tumbuh persepsi sempit bahwa perpustakaan hanyalah ruang remedial, padahal perpustakaan merupakan tempat pengembangan diri.
Studi terkini di Tiongkok yang mengukur tingkat pembangunan perpustakaan umum dan efisiensi investasi modal manusia di 31 provinsi dari 2011 hingga 2021 mengungkapkan peran vital perpustakaan dalam pengembangan SDM (igi-global.com).
Pertanyaannya, dalam kurun waktu yang sama di daerah atau secara nasional, apa yang dapat kita sitat dari cara Tiongkok menggali keunggulan unik ini dalam hal sumber daya pengetahuan dan informasi?
| Prabowonomics Mengubah Market Share Menjadi Market Power |
|
|---|
| Keberpihakan terhadap Ekologi Perspektif Sustainable Ethics dan Ekoteologi Kontekstual di Mamasa |
|
|---|
| Manipulasi Narasi Digital & Profesionalisme Penegakan Hukum: Melawan Arus Trial by Social Media |
|
|---|
| Momentum Pertumbuhan dan Tantangan Kualitas Belanja |
|
|---|
| Ancaman Narkoba di Ujung Jari |
|
|---|