Opini
Menteri Sufi
Bahkan setelah diangkat sebagai Menteri Agama, beliau tetap istiqamah mengisi dan memimpin majelis-majelis dzikir itu.
Bahkan setelah diangkat sebagai Menteri Agama, beliau tetap istiqamah mengisi dan memimpin majelis-majelis dzikir itu.
Jamaahnya bukan hanya datang untuk belajar. Banyak pula yang datang untuk bersilaturahmi, meminta doa, atau sekadar berbagi keresahan batin.
Ia menyambut mereka dengan senyum teduh, menanggapi dengan hati, dan merespons dengan doa.
Pekerjaan beliau dimulai selepas subuh, dengan Rapim Kementerian Agama yang digelar setiap Senin pukul 5.30 pagi, dan berlanjut hingga tengah malam.
Bayangkan, seorang menteri yang tidur hanya 3 jam setiap hari, bukan karena dipaksa keadaan, tapi karena jiwa pengabdian yang tak pernah padam.
Dalam pribadi Prof. Nasaruddin, kita melihat warisan karakter para tokoh sufi besar seperti Rumi, Al-Hallaj, dan Rabiah al-Adawiyah.
Ia penuh cinta universal memandang semua makhluk dengan kasih, bukan curiga.
Ia mendalam tapi ekspresif, menyampaikan pengalaman spiritualnya dalam bahasa puisi, dalam tutur yang menggetarkan jiwa.
Seperti Al-Hallaj, ia total dalam fana', meleburkan ego dalam tugas-tugas kenegaraan yang dilakoninya sebagai bentuk ibadah.
Ia rasionalis sekaligus spiritualis – mampu berdialog dengan filsafat dan syariat secara seimbang.
Ia menghargai relasi dengan mursyid dan tradisi, namun tetap terbuka terhadap ilmu-ilmu modern. Dalam laku hidupnya, kita melihat kesederhanaan seorang asketik, dan dalam keteguhannya, terpancar jiwa mursyid yang membimbing umat dengan kasih, bukan paksaan.
Prof. Nasaruddin tidak hanya menjadi pemenang bagi banyak orang – mereka yang tersentuh oleh ceramahnya, dibimbing dalam dzikirnya, atau didukung dalam urusan keagamaannya – tetapi juga teman bagi siapa saja, dari rakyat kecil hingga pejabat tinggi. Dalam menghadapi fitnah, beliau tidak melawan dengan kemarahan, tapi memilih jalan memaafkan – laku khas sufi sejati.
Sebagai Menteri Agama, beliau bukan hanya teknokrat yang mengurus anggaran dan kebijakan, tapi imam ruhani yang menghidupkan spiritualitas bangsa.
Ia hadir bukan untuk tampil, tapi untuk memberi. Bukan untuk berkuasa, tapi untuk melayani. Dan dalam setiap langkahnya, kita melihat bahwa tasawuf bukan sekadar ajaran lama, tapi sumber cahaya bagi masa depan negeri ini.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Prof-Dr-KH-Nasaruddin-Umar-MA-Menteri-Agama-Republik-Indonesia.jpg)