Breaking News

Opini

Menteri Sufi

Bahkan setelah diangkat sebagai Menteri Agama, beliau tetap istiqamah mengisi dan memimpin majelis-majelis dzikir itu.

Editor: Nurhadi Hasbi
Istimewa
MENTERI AGAMA - Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A, Menteri Agama Republik Indonesia 

Oleh: Muhammad Aras Prabowo
Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor

Di tengah dinamika politik dan birokrasi pemerintahan yang kerap keras dan penuh intrik, kehadiran seorang menteri yang menyemai nilai-nilai cinta, ketulusan, dan spiritualitas terasa seperti oase.

Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A, Menteri Agama Republik Indonesia saat ini, bukan hanya dikenal sebagai seorang intelektual muslim terkemuka, tapi juga sebagai "Menteri Sufi" – pemimpin yang menjalankan tugas kenegaraan dengan jiwa tasawuf yang mendalam.

Perjalanan beliau dimulai dari akar yang kuat sebagai santri. Sejak kecil, beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang religius di Sulawesi Selatan.

Sosok sang ayah, KH. Andi Umar, merupakan figur yang menanamkan ketaatan terhadap agama, membiasakan ibadah, dan mengenalkan nilai-nilai kesalehan sejak dini.

Fondasi inilah yang membentuk karakter religiusnya yang begitu kuat, menjadi bekal utama dalam perjalanan panjang intelektual dan spiritualnya.

Sebagai seorang santri, beliau berguru langsung kepada KH. Muhammad Nur, seorang ulama tasawuf yang dihormati dari Sulawesi Selatan.

Dari sinilah, jalan tasawuf yang halus namun kuat mulai ditempuh. Nilai-nilai zuhud, keikhlasan, dan cinta kepada Tuhan mulai meresap dalam hidupnya – bukan sekadar konsep, tapi menjadi cara hidup.

Namun karakter moderat dan toleran dalam beragama yang melekat kuat pada diri Prof. Nasaruddin justru semakin menguat ketika ia tinggal dan menuntut ilmu di Amerika Serikat.

Di negeri dengan keberagaman keyakinan yang ekstrem, beliau tidak hanya menjadi saksi, tapi pelaku aktif dalam merajut dialog lintas agama (interfaith dialogue).

Kesempatan menjadi dosen tamu di beberapa kampus ternama seperti Harvard University, Georgetown University, dan Temple University, memperkaya pandangan globalnya mengenai pentingnya perdamaian, toleransi, dan spiritualitas inklusif dalam keberagaman.

Puncak dari komitmennya terhadap dialog antaragama tampak nyata ketika Pope Francis mengunjungi Masjid Istiqlal – sebuah momen bersejarah yang menggambarkan dunia bisa dirangkul dalam cinta dan saling pengertian.

Prof. Nasaruddin menjadi arsitek spiritual dalam peristiwa itu – tidak hanya sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal, tapi sebagai simbol persaudaraan umat manusia lintas iman.

Sebagai seorang sufi, beliau tidak hanya bicara tentang cinta ilahi, tapi menjalani cinta itu dalam kehidupan nyata. Selama menjabat Imam Besar Masjid Istiqlal, beliau secara konsisten mengasuh pengajian tasawuf, dari subuh hingga petang, di berbagai tempat: masjid, kementerian, BUMN, hingga ruang-ruang keluarga.

Di tengah kemajuan teknologi, pengajian tasawuf virtual yang digagas setiap Senin dan Kamis subuh juga terus berjalan sejak masa pandemi, menyatukan ribuan jamaah dari berbagai pelosok negeri.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved