Opini
Menteri Sufi
Bahkan setelah diangkat sebagai Menteri Agama, beliau tetap istiqamah mengisi dan memimpin majelis-majelis dzikir itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Prof-Dr-KH-Nasaruddin-Umar-MA-Menteri-Agama-Republik-Indonesia.jpg)
Oleh: Muhammad Aras Prabowo
Pengurus Pusat Gerakan Pemuda Ansor
Di tengah dinamika politik dan birokrasi pemerintahan yang kerap keras dan penuh intrik, kehadiran seorang menteri yang menyemai nilai-nilai cinta, ketulusan, dan spiritualitas terasa seperti oase.
Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar, M.A, Menteri Agama Republik Indonesia saat ini, bukan hanya dikenal sebagai seorang intelektual muslim terkemuka, tapi juga sebagai "Menteri Sufi" – pemimpin yang menjalankan tugas kenegaraan dengan jiwa tasawuf yang mendalam.
Perjalanan beliau dimulai dari akar yang kuat sebagai santri. Sejak kecil, beliau tumbuh dalam lingkungan keluarga yang religius di Sulawesi Selatan.
Sosok sang ayah, KH. Andi Umar, merupakan figur yang menanamkan ketaatan terhadap agama, membiasakan ibadah, dan mengenalkan nilai-nilai kesalehan sejak dini.
Fondasi inilah yang membentuk karakter religiusnya yang begitu kuat, menjadi bekal utama dalam perjalanan panjang intelektual dan spiritualnya.
Sebagai seorang santri, beliau berguru langsung kepada KH. Muhammad Nur, seorang ulama tasawuf yang dihormati dari Sulawesi Selatan.
Dari sinilah, jalan tasawuf yang halus namun kuat mulai ditempuh. Nilai-nilai zuhud, keikhlasan, dan cinta kepada Tuhan mulai meresap dalam hidupnya – bukan sekadar konsep, tapi menjadi cara hidup.
Namun karakter moderat dan toleran dalam beragama yang melekat kuat pada diri Prof. Nasaruddin justru semakin menguat ketika ia tinggal dan menuntut ilmu di Amerika Serikat.
Di negeri dengan keberagaman keyakinan yang ekstrem, beliau tidak hanya menjadi saksi, tapi pelaku aktif dalam merajut dialog lintas agama (interfaith dialogue).
Kesempatan menjadi dosen tamu di beberapa kampus ternama seperti Harvard University, Georgetown University, dan Temple University, memperkaya pandangan globalnya mengenai pentingnya perdamaian, toleransi, dan spiritualitas inklusif dalam keberagaman.
Puncak dari komitmennya terhadap dialog antaragama tampak nyata ketika Pope Francis mengunjungi Masjid Istiqlal – sebuah momen bersejarah yang menggambarkan dunia bisa dirangkul dalam cinta dan saling pengertian.
Prof. Nasaruddin menjadi arsitek spiritual dalam peristiwa itu – tidak hanya sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal, tapi sebagai simbol persaudaraan umat manusia lintas iman.
Sebagai seorang sufi, beliau tidak hanya bicara tentang cinta ilahi, tapi menjalani cinta itu dalam kehidupan nyata. Selama menjabat Imam Besar Masjid Istiqlal, beliau secara konsisten mengasuh pengajian tasawuf, dari subuh hingga petang, di berbagai tempat: masjid, kementerian, BUMN, hingga ruang-ruang keluarga.
Di tengah kemajuan teknologi, pengajian tasawuf virtual yang digagas setiap Senin dan Kamis subuh juga terus berjalan sejak masa pandemi, menyatukan ribuan jamaah dari berbagai pelosok negeri.
Bahkan setelah diangkat sebagai Menteri Agama, beliau tetap istiqamah mengisi dan memimpin majelis-majelis dzikir itu.
Jamaahnya bukan hanya datang untuk belajar. Banyak pula yang datang untuk bersilaturahmi, meminta doa, atau sekadar berbagi keresahan batin.
Ia menyambut mereka dengan senyum teduh, menanggapi dengan hati, dan merespons dengan doa.
Pekerjaan beliau dimulai selepas subuh, dengan Rapim Kementerian Agama yang digelar setiap Senin pukul 5.30 pagi, dan berlanjut hingga tengah malam.
Bayangkan, seorang menteri yang tidur hanya 3 jam setiap hari, bukan karena dipaksa keadaan, tapi karena jiwa pengabdian yang tak pernah padam.
Dalam pribadi Prof. Nasaruddin, kita melihat warisan karakter para tokoh sufi besar seperti Rumi, Al-Hallaj, dan Rabiah al-Adawiyah.
Ia penuh cinta universal memandang semua makhluk dengan kasih, bukan curiga.
Ia mendalam tapi ekspresif, menyampaikan pengalaman spiritualnya dalam bahasa puisi, dalam tutur yang menggetarkan jiwa.
Seperti Al-Hallaj, ia total dalam fana', meleburkan ego dalam tugas-tugas kenegaraan yang dilakoninya sebagai bentuk ibadah.
Ia rasionalis sekaligus spiritualis – mampu berdialog dengan filsafat dan syariat secara seimbang.
Ia menghargai relasi dengan mursyid dan tradisi, namun tetap terbuka terhadap ilmu-ilmu modern. Dalam laku hidupnya, kita melihat kesederhanaan seorang asketik, dan dalam keteguhannya, terpancar jiwa mursyid yang membimbing umat dengan kasih, bukan paksaan.
Prof. Nasaruddin tidak hanya menjadi pemenang bagi banyak orang – mereka yang tersentuh oleh ceramahnya, dibimbing dalam dzikirnya, atau didukung dalam urusan keagamaannya – tetapi juga teman bagi siapa saja, dari rakyat kecil hingga pejabat tinggi. Dalam menghadapi fitnah, beliau tidak melawan dengan kemarahan, tapi memilih jalan memaafkan – laku khas sufi sejati.
Sebagai Menteri Agama, beliau bukan hanya teknokrat yang mengurus anggaran dan kebijakan, tapi imam ruhani yang menghidupkan spiritualitas bangsa.
Ia hadir bukan untuk tampil, tapi untuk memberi. Bukan untuk berkuasa, tapi untuk melayani. Dan dalam setiap langkahnya, kita melihat bahwa tasawuf bukan sekadar ajaran lama, tapi sumber cahaya bagi masa depan negeri ini.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.