Opini
Digital Nomad : Redefinisi Budaya Kerja
Fase tersebut menjadi awal mula hampir seluruh lapisan masyarakat Indonesia adaptif terhadap kebiasaan baru itu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Shalahuddin-Pegiat-Literasi.jpg)
Tantangan Komunikasi Organisasi
Kecenderungan generasi millennial apalagi dengan lapisan generasi Z masuk dalam lapisan kelompok digital nomade bila diamati, cukup mudah dalam beradaptasi. Mereka merupakan dua lapisan generasi yang dapat saling bertautan dalam kebiasaan baru ini hampir tanpa kendala berarti.
Penggunaan perangkat teknologi digital berbasis internet cukup familiar diantara mereka. Pada gambaran statistik di Indonesia, dua kelompok mewakili masing-masing generasinya ini memang cukup dominan sebagai pengguna dibanding dengan kelompok lainnya.
Penetrasi internet generasi millennial telah tercatat 93 persen lebih. Kemudian pada kelompok generasi Z tercatat telah mencapai 87 persen lebih. Keduanya dalam potret penggunaan internet di tahun 2024 kemarin.
Sehingga dengan skill yang dimiliki, membuka potensi mereka melakukan pekerjaannya baik secara virtual. Sekaligus punya potensi positif yaitu dilakukan secara multitasking dengan pekerjaan lainnya yang boleh jadi tak berkaitan sama sekali dengan tugas wajibnya di institusi tempatnya bekerja.
Kendati demikian, secara statistik menunjukkan peluang positif, tetapi kita berhadapan dengan tantangan dalam konteks komunikasi organisasi. Misalnya pada level institusi pemerintahan dibutuhkan adaptasi budaya baru digital nomad secara perlahan pada semua jenjang generasi yang berkecimpung didalamnya.
Sebab perubahan yang dialami bukan sekedar pola pergeseran penggunaan teknologi. Misalnya kordinasi berbasis whatsapp atau platform digital lainnya dalam hal administratif. Tetapi juga dalam berbagai hal khususnya terkait memperlakukan relasi kerja pada ruang digital.
Tantangan besar ini berada didepan mata apalagi dengan mereka yang bergerak pada institusi pemerintahan. Hal itu dapat kita lihat dalam data statistik BKN semester pertama tahun 2024. Bahwa populasi terbesar Aparatur Sipil Negara (ASN) di Indonesia baik yang statusnya sebagai PNS maupun PPPK, generasi millennial menunjukkan dominasinya.
Datanya mengungkapkan populasi kelompok ini mencapai hingga 54 persen. Sementara kelompok Generasi X (lahir pada 1965-1976) hanya berkisar 36 persen. Relasi antara keduanya tentu tidak sederhana di era digital ini.
Sebab keduanya hadir bersamaan pada era digital namun pola adaptasinya berbeda yang dipengaruhi oleh budaya masing-masing yang bergerak mengantar mereka dizamannya.
Pada kelompok Gen X misalnya, mereka terbiasa dan telah bertahun tahun dalam interaksi secara real time dan mencoba beradaptasi dengan teknologi digital tentu masih terbilang mudah. Apalagi dengan generasi millennial.
Tetapi dalam hal budaya kerja pada ruang digital yang berkembang misalnya tentu mengalami tantangan psikologis tersendiri. Sehingga perlu kolaborasi yang matang antara keduanya agar bisa saling menguatkan dalam menghadapi tantangan kerja masing-masing jenjang.
Fenomena digital nomad yang didalamnya dihuni oleh banyak kelompok millennial punya kecenderungan memilih kerja berbasis online sebab mempertimbangkan fleksibilitas waktu dan tempat. Kemudian mereka memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap budaya kerja lintas negara.
Pada aspek yang lain, digital nomad karena sering bekerja lintas budaya, dan perbedaan gaya komunikasi atau ekspektasi kerja justru menjadi pintu dapat memicu konflik pada level intern. Sebab wawasan dan paradigma terhadap pergaulan virtual yang luas membentuk mereka dalam melakukan komparasi cara pandang dan pola kerja yang menjadi preferensi atau kecenderungan mereka.
Untuk mengatasi potensi buruk yang dapat ditimbulkan oleh fenomena ini, selain solusi adaptasi semua pihak dalam penggunaan teknologi, mendorong kolaborasi kerja berbasis tim perlu dilakukan. Misalnya dengan menerapkan pola komunikasi dan jadwal kerja yang disepakati bersama.