Kamis, 16 April 2026

Opini

Alur Psikologis Perilaku Candu Judi Online

Dalam Well Being Psychological Journal (2024:67) disebutkan, judi online berpengaruh pada dampak psikologis yang ditimbulkan oleh pelaku.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Alur Psikologis Perilaku Candu Judi Online
Nur Salim Ismail
Nur Salim Ismail 

Dalam Jurnal at Tafakur (2024) lebih spesifik menyebutkan bahwa salah satu dampak yang ditimbulkan oleh judi online adalah runyamnya tatanan rumah tangga.

Kecanduan judi online merupakan masalah serius yang dapat mengakibatkan kerusakan mendalam terhadap struktur dan keharmonisan sebuah keluarga.

Implikasi yang ditimbulkan di antaranya: Kerugian Keuangan Keluarga, Stres, Ketidakstabilan Emosional, Gangguan dalam Kehidupan Keluarga, hingga Perceraian dalam Keluarga.

Dalam perspektif psikologis, sebuah perilaku tidak serta merta hadir secara natural. Perilaku diawali oleh pelaziman (operant conditioning). Sebab perilaku merupakan hasil dari pengalaman, dan perilaku digerakkan atau dimotivasi oleh kebutuhan untuk memperbanyak kesenangan dan mengurangi penderitaan (Rakhmat 2018: 23).

Jika pelaziman lebih banyak diwarnai oleh hal-hal negatif, maka respon yang akan dimunculkan juga negatif. Sebaliknya, stimulus positif yang dibentangkan dalam pelaziman kehidupan manusia, akan menghasilkan respon positif pula. 

Jika setiap kali seseorang menghadiri kerumunan lalu berujung tawuran, jangan heran jika orang tersebut akan dituduh sebagai biang kerok. Sebaliknya, jika setiap hari anda menghadiri kerumunan yang membuat orang lain merasa beruntung, jangan kaget jika anda dituduh sebagai dewa penyelamat.

Konteks judi online pada dasarnya tidak cukup jika hanya ditilik dari peristiwa hukum belaka. Ini merupakan rentetan panjang yang menghinggapi kehidupan para pelaku. Faktor ketelibatan orang tua sebagai wadah pendidikan paling dasar perlu untuk dicermati lebih mendalam.

Budaya kekerasan terhadap anak, menyederhanakan setiap persoalan, menyelesaikan segala hal berdasar pada uang, menciptakan budaya instan adalah sederet perilaku orang tua yang memiliki dampak jangka panjang bagi generasi.

Model pengasuhan anak dengan bercermin pada pola di atas menunjukkan bahwa sejak awal, daya tarung seorang anak untuk menghadapi gelombang masa depan kehidupannya tidak terkelola dengan cara yang baik.

Terlebih dalam konteks masa kini. Orang tua yang tidak mampu bersikap ‘tega’ terhadap anaknya, akan menemukan patologi yang jauh lebih berat di kemudian hari. Karenanya, orang tua bertanggung jawab menciptakan iklim kehangatan dalam pengasuhan anak.

Alur inilah yang mesti mendapat perhatian krusial sebagai upaya memutus mata rantai berbagai masalah yang menimpa generasi bangsa.

Meski ini bukan satu-satunya poros solusi, namun aspek penanganan psikologis seringkali hanya dibutuhkan saat kerusakan jiwa telah mendera. Acap kali kita lupa mendesain alur perilaku generasi dengan kecermatan psikologis sejak awal. (*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved