Opini
Fasilitas dan Ancaman Realitas Virtual
Fase ini menurut Kimberly Young, sekelompok manusia hari ini mengalami adiksi gadget dan internet.
Mulai dari tatanan hingga media interaksi untuk kepentingan relasi sosial.
Meski demikian, seperti kita pahami bahwa perubahan sosial adalah terjadinya pergeseran fungsi dan peran ditengah masyarakat.
Disadari atau tidak, kehadiran teknologi informasi dan komunikasi membawa paradigma dan kelompok sosial baru. Dalam hal ini dari citizen ke netizen dan sebaliknya pun terjadi.
Paradigma ini tentang bagaimana mereka menyikapi media digital sebagai ruang interaksi yang memiliki tatanan sosial sendiri.
Tak sedikit diantara masyarakat membangun dikotomi yang lebar antara kehidupan citizen dan netizen.
Bentuk dikotomi itu dengan model keyakinan yang mendominasi secara timbal balik antara keduanya.
Dalam hal ini paradigma yang digunakan menilai bahwa satu-satunya realitas yang benar adalah apa yang muncul di media virtual.
Pada tataran ini kita patut khawatir jika hal tersebut menjadi alas berpikir apalagi bila itu terjadi pada kelompok elit birokrasi dan politik.
Sebab jika terseret oleh pengalaman visual saja, saya kira ini adalah pintu awal kehadiran semu dalam lapisan identitas dan hendak ditonjolkan sesuai kepentingan dan momentum yang menyertai.
Sebab apa yang tersaji dimedia virtual patut dipahami adalah bentuk replikasi hingga simulasi realitas yang dikonstruksi dengan alas berpikir penyajinya. Di dalamnya terdapat citra, tanda dan simbol.
Citra, tanda dan simbol adalah bahasa yang memediasi pesan komunikasi pada ruang virtual untuk mendorongnya menjadi sebuah kenyataan dan berpeluang menjadi hegemoni.
Dalam tradisi komunikasi massa sebelum tren media sosial mengepung kehidupan manusia, praktek ini sesungguhnya sudah lama dioperasikan.
Kondisi ini makin menunjukkan geliatnya ditengah kondisi masyarakat yang cukup permisif terhadap informasi yang menjejali mereka.
Tak sampai disitu, media mainstream dimasa lampau bahkan memandu masyarakat kita turut berpartisipasi dengan mengamini informasi-informasi tersebut sebagai referensi dan berkontribusi mengubah gaya hidup mereka.
Padahal jauh hari sebelumnya Jean Budrillard telah lebih awal mengingatkan bahwa terdapat imajinasi yang menuntun masyarakat untuk menerima realitas palsu hingga kita sulit membedakan mana realitas nyata dan semu.
Pada konteks hari ini, media digital mampu memfasilitasi hal tersebut. Lebih dari apa yang mampu dilakukan oleh media mainstream yang selama ini menjadi acuan masyarakat (massa).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Salahuddin-relawan-TIK-Sulawesi-Barat-Sulbar.jpg)