Opini

Fasilitas dan Ancaman Realitas Virtual

Fase ini menurut Kimberly Young, sekelompok manusia hari ini mengalami adiksi gadget dan internet.

Editor: Nurhadi Hasbi
dokumen Salahuddin
Salahuddin, relawan TIK Sulawesi Barat (Sulbar) 

Oleh : Shalahuddin
Relawan TIK Sulawesi Barat

SEJAK kehadiran teknologi yang disebut internet, platform media komunikasi yang basisnya menggunakan internet, dengan ragam jenisnya turut bermunculan. Mulai yang hanya untuk pengiriman teks hingga gambar dan video.

Hampir satu dekade tren itu kian intens menyapa kehidupan sehari-hari kita. Kita nyaris memulai aktifitas bangun tidur dengan membuka layar smartphone.

Meski mungkin sekedar untuk mengakses informasi yang berlalu sesaat mata kita terlelap beberapa jam sebelumnya.

Tak hanya itu secara khusus bagi kelompok usia tertentu (apalagi kelompok remaja) telah terjaring dalam ruang ketergantungan penggunaan smartphone dan internet.

Fase ini menurut Kimberly Young, sekelompok manusia hari ini mengalami adiksi gadget dan internet.

Ketergantungan tersebut belum berakhir sampai disitu. Kini pergerakan kita dari satu tempat ke tempat yang lain tanpa menggenggam smartphone rasanya ada hal yang kurang.

Misalnya, kelupaan membawa ponsel pintar saat keluar dari rumah, seakan mengurangi kelengkapan perjalanan kita.

Smartphone menjadi bagian kebutuhan primer manusia masa kini.

Hal itu bisa dilihat dengan intensitas kepemilikan gadget yang terus mengalami peningkatan.

Awal kemunculan handphone, menjadi sebuah identitas dalam kelas sosial hingga terus menerus mengalami evolusi menjadi smartphone yang menjadi kebutuhan orang jamak dan makin menyentuh segenap strata sosial yang ada.

Populasi itu makin tak dapat dinafikkan dengan meminjam data yang dirilis Newzoo pada tahun 2020 Indonesia telah menempati posisi keempat dengan 170,4 juta pengguna smartphone.

Posisi ini dibawah Tiongkok, India dan Amerika Serikat. Penetrasi smartphone di dalam negeri telah mencapai 61,7 persen dari total populasi.

Sementara penggunaan smartphone untuk aktifitas pada ruang internet ditemukan 89,03 persen. Angka ini dapat kita temukan dalam data yang dirilis APJII pada awal semester II tahun 2022.

Artinya apa? dari kedua data awal di atas (terlepas dari nominalnya) kita menyadari bahwa kehadiran teknologi informasi dan komunikasi menuntun kita mengalami perubahan demi perubahan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved