Burung Maleo

Apakah Melestarikan Burung Maleo di Mamuju Terlambat?, Begini Penjelasan Tim Jaga Maleo

Yusuf menjelaskan, pembangunan di ibukota terus berlangsung. Hal itu mengancam habitat Burung Maleo semakin terganggu.

Penulis: Habluddin Hambali | Editor: Nurhadi Hasbi
Tribun Sulbar / Hablu Hambali
Fotografer Dokumenter Yusuf Wahil dan Pemerhati Lingkungan Ridwan Alimuddin saat hadir di podcast Tribun-Sulbar.com di Jl Martadinata, Kecamatan Simboro, Mamuju, Sulbar, Rabu (3/8/2022). 

TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU - Fotografer dokumenter sekaligus salah satu tim jaga Maleo, Yusuf Wahil, mengatakan, habitat Burung Maleo harus dijaga mulai dari sekarang.

Utamanya di Kabupaten Mamuju, sebagai ibukota Provinsi.

Yusuf menjelaskan, pembangunan di ibukota terus berlangsung.

Baca juga: Mengapa Penting Menjaga Habitat Burung Maleo?, Begini Kata Pemerhati

Baca juga: KENAPA Ridwan dan Yusuf Wahil Mau Dokumentasikan Burung Maleo Terancam Punah?

Hal itu mengancam habitat Burung Maleo semakin terganggu.

Sehingga, menurut Yusuf, pemerintah harus terlibat dalam menjaga dan melastarikan habitat burung yang memiliki nama latin Macrocephalon Maleo.

"Seperti di Desa Tapandullu, Kabupaten Mamuju sudah mulai pembangunan ke sana, di situ ada habitat Burung Maleo, makanya sekaranglah waktunya bergerak," kata Yusuf, saat hadir di podcast Tribun-Sulbar.com di Jl Martadinata, Kecamatan Simboro, Mamuju, Sulbar, Rabu (3/8/2022).

Dikatakan, beda halnya di Kabupaten Mamuju Tengah dan Pasangkayu.

Burung Maleo sudah sangat jarang terlihat.

Sebab, habitatnya tergusur dengan banyaknya pembukaan perkebunan kelapa sawit.

"Kalau di Mamuju Tengah ada Sawit, habitat di Kambunong kebetulan ada tesis Maleo, saya cari tempatnya. Saya tidak menemukan lagi maleo karena di situ sudah dibangunin empang dan tambak," ungkap Yusuf.

Sepasang Burung Maleo bertelur di Pasir pantai
Sepasang Burung Maleo bertelur di Pasir pantai (ist)

Dengan demikian, sumber makanan Burung Maleo tidak ada lagi.

Dia mengungkapkan, kala itu dia hanya mendapatkan Burung Maleo di gundukan gunung yang sudah dikerok.

"Jadi kalau pemerintah mau serius dimulai dari sekarang, karena sangat miris," ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, Burung Maleo habitataya berada di hutan tropis/

Namun, saat bertelur membutuhkan pasir atau tanah gembur yang hangat.

"Ada dua dekat pantai atau dekat air panas. Belakang di Tapandullu Maleo jika mau ke pantai ada jalan menjadi perantara," tandasnya.

Begitupun, jalanan ke sana sudah mulai bagus dan tentu akan membuat Maleo susah ke pantai karena takut dengan kendaraan yang terus melintas.(*)

Laporan wartawan TRIBUN-SULBAR.COM, Habluddin

  • Ikuti kami di

    AA
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved