Opini Tribun

Land Below The Wind (Negeri Bawah Angin)

Negeri yang damai dengan upaya saling memberikan peran kepada laki-laki dan wanita bersatu dalam Sibali parri.

Editor: Nurhadi Hasbi
Prof Gufran Darma Dirawan
Taman Budaya Buttu Cipping di Kecamatan Tinambung, Polman, Sulbar. 

Namun makna di kandungnya sangat mendalam .

Bangsa itu kemudian. Diidentifikasi sebagai bangsa yang selalu mempersatukan.

Kata Mandar sendiri selalu dikaitkan dengan kata sipamanda' atau sipamandar. Atau safat yang saling menyatukan,

bahkan kadang juga sering dikatakan dengan kata Mandar atau assemandarang ( Penyatuan: Unity). Yang selalu menjadi bagian dari upaya menemukan kemufakatan bersama yang juga sering disebut assamalewuang (Kesepakatan yang menyatukan).

Negeri di bawah angin merupakan negeri yang indah dengan berbagai potensi yang sangat luar biasa.

Dedaunan yang menghijau ditambah dengan laut yang membiru, tanah merah bahkan kecoklatan juga menjadi bagian pemandangan yang tak kalah menarik.

Negeri yang damai dengan upaya saling memberikan peran kepada laki-laki dan wanita bersatu dalam Sibali parri.

Memberikan makna yang sama juga penyatuan pemahaman dan saling bantu dalam menjalankan kehidupan.

Bangsa ini adalah bangsa yang besar dengan berbagai pahamnya dalam kerangka bhineka tunggal Ika.

Bangsa ini adalah bangsa yang besar dalam memberikan semangat kejuangan untuk melawan keangkaramurkaan.

Bangsa yang jujur dan berani menyatakan kebenaran.

Di laut mereka dinyatakan perompak oleh kapal kapal asing terutama VOC, namun seharusnya mereka adalah para pahlawan yang memperjuangkan kemakmuran bangsanya melawan otoritas VOC.

Inilah kami orang Mandar. Dilahirkan dibesarkan dan kemudian mati dalam kejujuran. Bangsa yang tidak dapat melihat ketidak adilan.(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved