Opini
Membaca Arah Pendidikan Lewat Tes Kemampuan Akademik
TKA berfungsi sebagai alat pemetaan capaian pendidikan nasional, sekaligus salah satu referensi yang dapat dipertimbangkan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Furqan-Mawardi-Dosen-Universitas-Muhammadiyah-Mamuju-Sulawesi-barat.jpg)
Partisipasi peserta didik terbilang sangat tinggi, menunjukkan tingkat penerimaan publik yang tidak kecil.
Lebih dari itu, dukungan dari berbagai pemangku kepentingan sekolah, pemerintah daerah, dan satuan pendidikan menjadi sinyal bahwa TKA tidak berdiri sendirian sebagai kebijakan elitis, melainkan sebagai kerja bersama.
Fakta ini penting disampaikan agar publik tidak terjebak pada narasi pesimistis yang kerap dibangun dari potongan informasi yang tidak utuh. Pendidikan nasional tidak sedang mundur, justru sedang berbenah dengan pendekatan yang lebih berbasis data dan bukti.
Antara Ketakutan dan Kesalahpahaman
Cukup banyak orang-orang yang memandang sinis dan memberi kritik terhadap TKA, namun hal ini bisa dipahami, karena komentar komentar yang saya perhaikan mayoritas terlahir dari kekhawatiran lama, yakni takut pendidikan kembali terjebak pada orientasi angka.
Tentu Kekhawatiran ini patut dihargai, tetapi tetap perlu diluruskan.
Bahwa TKA tidak berdiri sendiri, ia menjadi bagian dari ekosistem penilaian yang lebih luas, untuk melengkapi asesmen lain seperti Asesmen Nasional, survei karakter, dan evaluasi pembelajaran kontekstual.
Justru tanpa instrumen seperti TKA, kebijakan pendidikan berisiko disusun tanpa peta yang jelas. Kita bisa saja bersemangat berbicara tentang mutu dan pemerataan, tetapi kehilangan dasar data untuk menentukan intervensi yang tepat.
Dalam konteks ini, TKA adalah alat bantu kebijakan, bukan tujuan akhir pendidikan itu sendiri.
Dampak positif dari TKA dapat dilihat dari dua sisi, yakni proses dan hasil. Dari sisi proses, TKA mendorong budaya evaluasi yang lebih sehat untuk memperbaiki, bukan menghukum.
Dari sisi hasil, data TKA memberi peluang besar bagi pemerintah untuk merancang kebijakan afirmatif, terutama bagi daerah yang selama ini tertinggal secara akses dan mutu serta sulit terjangkau.
Lebih jauh, TKA membuka ruang dialog yang lebih jujur tentang kualitas pendidikan kita.
Ia mengajak semua pihak, baik pemerintah, pendidik, orang tua, dan masyarakat umum untuk duduk bersama membaca peta, lalu bergerak bersama memperbaiki arah.
Pada akhirnya, TKA adalah tentang keberanian membaca diri sendiri.
Bangsa yang besar bukanlah bangsa yang takut dinilai, melainkan bangsa yang berani bercermin dan berubah. Selama TKA ditempatkan secara proporsional sebagai sebuah alat pemetaan dan evaluasi, bukan sebagai alat penentu, maka ia justru menjadi harapan baru bagi pendidikan nasional negeri kita tercinta. (*)
| Menanti Pembuktian "Assa" untuk Petani Polman |
|
|---|
| Kado Ulang Tahun Duta Sheila On 7: Single Baru atau Keteladanan yang Tak Pernah Usang? |
|
|---|
| Mamasa: Karnaval di Atas Tangisan Epilepsi |
|
|---|
| Menimbang Energi Nuklir: Perspektif Hukum Tata Negara dalam Penguatan Kebijakan Energi Nasional |
|
|---|
| Man Behind the Gun Trump: The Domino Effect Reaching Indonesia |
|
|---|