Rabu, 8 April 2026

Opini

Sandiwara Angka Pembangunan di Bumi Tipalayo

Penurunan kemiskinan, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, serta penguatan tenaga kerja lokal disebut sebagai agenda utama.

Tayang:
Editor: Abd Rahman
zoom-inlihat foto Sandiwara Angka Pembangunan di Bumi Tipalayo
Abd Rahman
FOTO PRIBADI DEBY- Ketua HMI Komisariat HMI Cabang Polman 

Oleh : Deby Akbar Tamrin

Ketua HMI  Komisariat  Tarbiyah dan Keguruan Cabang Polman


TRIBUN-SULBAR.COM- Menutup tahun anggaran 2025, pembangunan manusia di Kabupaten Polewali Mandar kembali berada di persimpangan antara ambisi perencanaan dan kenyataan pelaksanaan. Tahun ini sekaligus menjadi gerbang awal implementasi Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029 yang mengusung visi besar “Polewali Mandar Sehat, Cerdas, dan Maju.”

Namun pertanyaannya sederhana sekaligus mendasar: sejauh mana visi tersebut benar-benar bergerak dari lembaran dokumen menuju kehidupan nyata masyarakat?

RPJMD telah ditetapkan melalui Perda Nomor 2 Tahun 2025 secara normatif telah menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai prioritas strategis.

Penurunan kemiskinan, peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan, serta penguatan tenaga kerja lokal disebut sebagai agenda utama. Sayangnya, menjelang akhir tahun pertama implementasinya, geliat pembangunan manusia justru masih tampak tertatih.

Rendahnya Serapan Anggaran 

Salah satu problem klasik yang kembali berulang adalah rendahnya serapan anggaran, khususnya pada OPD yang bersentuhan langsung dengan pembangunan manusia.

Laporan monitoring hingga triwulan III menunjukkan fakta yang mengkhawatirkan: dinas yang menangani pemberdayaan perempuan dan tenaga kerja hanya mampu merealisasikan sekitar 41,5 persen anggaran, sementara urusan tenaga kerja dan energi bahkan lebih rendah, di kisaran 36,6 persen Ini bukan sekadar soal angka, melainkan soal dampak.

Setiap rupiah yang tidak terserap berarti pelatihan kerja yang tertunda, layanan pemberdayaan yang tidak menjangkau sasaran, dan peluang peningkatan kualitas hidup masyarakat yang terbuang. Ketika belanja publik berjalan lamban, maka visi “cerdas dan maju” berisiko berhenti sebagai jargon birokrasi.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Polewali Mandar yang masih berada di kisaran 66,22 di bawah rata-rata provinsi menjadi sinyal kuat bahwa pembangunan manusia belum mengalami lompatan berarti. Status IPM yang masih dalam kategori menengah menandakan bahwa perbaikan di sektor pendidikan, kesehatan, dan daya beli berjalan terlalu pelan.

Pada saat yang sama, tingkat kemiskinan yang masih berada di kisaran 12–15 persen menunjukkan adanya ketimpangan dalam distribusi manfaat pembangunan.

Program ada, anggaran tersedia, tetapi belum sepenuhnya menyentuh kelompok masyarakat yang paling membutuhkan. Ini memperlihatkan bahwa persoalan utama bukan hanya keterbatasan sumber daya, melainkan ketajaman intervensi kebijakan.

RPJMD menargetkan lonjakan IPM hingga 79,09 pada tahun 2029 sebuah target yang progresif dan patut diapresiasi. Demikian pula peningkatan rata-rata lama sekolah dari 7,88 menjadi 8,31 tahun.

Namun jika tahun pertama RPJMD saja sudah diwarnai oleh serapan anggaran yang rendah dan kinerja OPD yang belum optimal, maka target tersebut berpotensi menjadi sekadar angka aspiratif.

Target IPM Hanya Mimpi Terus Tertunda

Pembangunan manusia bukan proyek instan. Ia membutuhkan konsistensi, keberanian menentukan prioritas, dan disiplin dalam pengelolaan anggaran. Tanpa pembenahan serius di sisi tata kelola, target IPM berisiko menjadi mimpi yang terus ditunda dari satu periode ke periode berikutnya.

Sumber: Tribun sulbar
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved