Opini
Bela Negara di Tengah Demokrasi Bising
Persatuan bangsa seakan diuji, bukan oleh serangan senjata, melainkan oleh retakan kepercayaan dan kabut disinformasi
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Guru-Besar-UNS-Prof-Dr-Sunny-Ummul-Firdaus-SHMH.jpg)
Polarisasi politik dan derasnya hoaks menunjukkan bahwa demokrasi tanpa arah akan mudah tergelincir. Di sinilah wawasan kebangsaan menjadi kompas. Ia menuntun setiap warga negara untuk tetap menempatkan Indonesia sebagai rumah bersama, meski berbeda pilihan politik, suku, agama, atau ideologi.
Survei CSIS (Agustus 2023) memperlihatkan 63 % generasi muda (usia 17–24 tahun) lebih percaya informasi politik dari media sosial ketimbang media arus utama.
Fakta ini menandakan betapa pentingnya wawasan kebangsaan ditanamkan sejak dini agar anak muda tidak mudah terombang-ambing oleh manipulasi informasi. Tanpa wawasan
kebangsaan, demokrasi akan jatuh menjadi sekadar perebutan kekuasaan, bukan jalan menuju keadilan sosial.
Generasi Muda di Garis Depan
Generasi muda memegang kunci dalam menghidupkan kembali semangat bela negara. Mereka tumbuh dalam era digital, sehingga lebih akrab dengan isu disinformasi, polarisasi, dan budaya instan.
Pendidikan kebangsaan harus diarahkan bukan dengan indoktrinasi, melainkan dengan pengalaman nyata: praktik kepemimpinan, literasi digital, penguatan etika bermedia, serta keterlibatan dalam kegiatan sosial.
Kampus, sekolah, dan komunitas dapat menjadi laboratorium bela negara yang demokratis. Di ruang itu, generasi muda dilatih untuk kritis tanpa kehilangan kesantunan,berani berbeda pendapat tanpa harus bermusuhan, dan cerdas bermedia tanpa terjebak propaganda.
Bela Negara sebagai Demokrasi Sehari-hari
Pada akhirnya, bela negara di era polarisasi tidak lagi berbicara soal senjata dan medan perang. Bela negara kini adalah menjaga akal sehat dalam berdebat, menyaring informasi sebelum menyebarkannya, dan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok.
Wawasan kebangsaan adalah penuntun agar arah demokrasi tetap menuju persatuan dan keadilan sosial.Jika kita mampu menyalakan kesadaran ini, maka kebisingan demokrasi bukanlahancaman, melainkan musik yang indah: riuh tapi tetap harmonis, gaduh tapi tetap satu nada, bising tapi tetap mempersatukan.(*)