Opini
Sekolah Layak, Pendidikan Bermartabat
Ketika sekolah diperbaiki, sejatinya negara sedang menegakkan kembali martabat anak-anak bangsa.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Furqan-Mawardi-for-Tribun-sulbar.jpg)
Revitalisasi sekolah sejatinya adalah menghadirkan “taman belajar” sebagaimana dicita-citakan oleh Bapak Pendidikan Nasional kita.
Nurcholish Madjid pernah mengingatkan bahwa kemajuan bangsa tidak bisa dilepaskan dari kualitas sumber daya manusianya.
SDM unggul hanya mungkin lahir dari pendidikan yang berkualitas, dan kualitas itu bertumpu pada ekosistem belajar yang sehat.
Maka, revitalisasi sekolah jangan dipandang semata proyek pembangunan, melainkan investasi strategis dalam peradaban bangsa.
Setiap bata yang dipasang, setiap atap yang diperbaiki, sesungguhnya adalah pondasi bagi Indonesia yang berdaya di masa depan.
Menteri Pendidikan pertama RI, Mr. Soewandi, bahkan menyebut sekolah sebagai “jendela bangsa untuk melihat dunia.”
Jendela itu akan buram bila kacanya retak, kusam, atau tidak terawat. Sama halnya dengan sekolah yang reyot, ia tidak lagi mampu menjadi jendela yang memperlihatkan cahaya masa depan.
Revitalisasi sekolah adalah ikhtiar membersihkan kaca jendela itu, agar anak-anak kita bisa menatap luasnya dunia dengan percaya diri.
Di sinilah letak tantangan besar kita. Banyak sekolah, terutama di daerah 3T, masih berjuang dengan keterbatasan akses listrik, internet, bahkan guru tetap.
Maka revitalisasi sejati harus berwajah ganda: membangun infrastruktur sekaligus memperkuat ekosistem pendidikan.
Tanpa itu, sekolah hanya akan berubah rupa, tetapi tidak berubah makna.
Pendidikan yang bermartabat lahir dari sekolah yang layak. Sekolah yang tidak hanya berdiri megah, tetapi juga memberi ruang bagi anak-anak untuk bermimpi besar.
Sekolah yang membuat guru merasa dihargai, dan orang tua merasa bangga menitipkan masa depan anaknya.
Karena sesungguhnya, setiap gedung sekolah yang diperbaiki adalah janji negara kepada rakyatnya.
Bahwa pendidikan bukan sekadar slogan, melainkan jalan menuju peradaban yang lebih mulia.