Cuaca Buruk
Nelayan Tradisional di Mateng Pilih Libur Melaut Karena Cuaca Buruk, Harga Ikan Jadi Mahal
Nelayan Desa Tumbu Poddin mengaku, satu bulan terakhir wilayah Mamuju Tengah dilanda cuaca esktrem.
Penulis: Sandi Anugrah | Editor: Abd Rahman
TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU TENGAH - Sejumlah nelayan tradisional di Desa Tumbu, Kecamatan Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng), Sulawesi Barat (Sulbar) terpaksa harus memakir rapi perahunya.
Mereka terpaksa libur mencari ikan di laut karena cuaca sedang tidak bersahabat.
Angin kencang disertai hujan deras dan gelombang tinggi, membuat para nelayan itu enggan melayarkan perahunya untuk mencari ikan.
Sejumlah kapal atau perahu nelayan nampak terparkir rapi di bibir pantai Tumbu.
Baca juga: Sarang Tawon Vespa Resahkan Warga Polman, Damkar Ungkap Racunnya Berpotensi Sebabkan Gagal Ginjal
Baca juga: Cuaca Buruk, Pasokan Ikan Laut di Pasar Topoyo Langka, Ibu Rumah Tangga Terpaksa Beli Tempe
Para nelayan hanya sibuk merawat alat tempur, seperti jala, pancing hingga perahu mereka, sembari menunggu cuaca kembali bersahabat.
Nelayan Desa Tumbu Poddin mengaku, satu bulan terakhir wilayah Mamuju Tengah dilanda cuaca esktrem.
Poddin dan nelayan lainya harus rehat sejenak, menantikan cuaca kembali normal agar bisa kembali melaut.
"Karena cuaca buruk, jadi kita tidak melaut dulu," kata Poddin kepada Tribun-Sulbar.com.
Meski nelayan memaksa berangkat melaut, hasilnya pun dipastikan akan nihil karena kondisi gelombang tinggi dan angin kencang.
Kata dia, nelayan sangat berangtung pada cuaca, jika bersahabat maka hasil tangkapan juga akan lumayan.
Nelayan bisa dapat ikan dua hingga empat gabus besar.
Tetapi, jika musim hujan tiba, paling dapat beberapa ekor hingga paling banyak setengah gabus saja.
"Itupun kalau dapat," keluhnya.
Ia menambahkan, harga ikan di pasar saat ini mahal karena nelayan saat ini memilih untuk beristirahat.
Ikan Langka dan Mahal di Pasar Topoyo
Sejumlah lapak penjual ikan di kompleks pasar Topoyo, Desa Topoyo, Kecamatan Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng), Sulawesi Barat (Sulbar) sepi, Rabu (27/8/2025).
Pantauan Tribun-Sulbar.com, sejumlah lapak pedagang tidak lagi menjual ikan.
Banyak pedagang terpaksa menutup lapak mereka karena kesulitan mendapatkan pasokan ikan laut dari nelayan.
Sehingga para pedagang terpaksa menanggalkan untuk berjualan ikan di pasar.
Sebagian mereka hanya menjual ikan air tawar dan ikan tambak.
Ikan laut yang biasanya ramai di lapak para pedagang saat ini terlihat kosong.
Pedagang bernama Lela mengaku, beberapa hari ini stok ikan dari nelayan sulit diperoleh oleh para pedagang.
Menurutnya, ikan susah karena nelayan tidak lagi bisa melaut karena cuaca buruk dan gelombang tinggi.
Hujan deras disertai angin kencang hampir merata menerjang wilayah pesisir.
Para nelayan enggan melaut karena gelombang tinggi menerjang perahu-perahu mereka.
Harga Ikan cakalang sebelumnya Rp30 ribu naik menjadi Rp40 ribu - Rp45 ribu.
Sementara ikan katombo sebelumnya Rp30 ribu naik menjadi Rp45 ribu.
Adapun ikan nila dan bolu, sebelumnya harga Rp30 ribu perkilo naik menjadi Rp50 ribu.
Adapun jenis ikan batu merah, walasuji, tembang, banjar dan jenis ikan laut lainnya tidak nampak terjual. (*)
Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Sandi Anugrah
Cuaca Buruk Landa Pesisir Mamuju Tengah, Harga Ikan di Pasar Topoyo Relatif Normal |
![]() |
---|
Rumah Warga Tobadak Mamuju Tengah Tertimpa Pohon Imbas Cuaca Buruk |
![]() |
---|
Gelombang Tinggi Ancam Rumah Warga di Takatidung Polman, Sebagian Rumah Rusak |
![]() |
---|
Rumah Warga di Tapango Polman Tertimpa Pohon Kelapa karena Angin, Pemilik Pohon Bertanggungjawab |
![]() |
---|
Tiang Listrik Tumbang di Jalan Menuju Desa Limboro Sendana Majene, Pengendara Tak Bisa Melintas |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.