Senin, 25 Mei 2026

Opini

Chromebookgate: Digitalisasi Pendidikan yang Gagal

Kasus pengadaan Chromebook senilai hampir Rp 9,9 triliun yang kini diselidiki Kejaksaan Agung telah mengguncang dunia pendidikan.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Chromebookgate: Digitalisasi Pendidikan yang Gagal
Istimewa
Penulis opini Dr. Elinda Rizasari,Spd.,Mpd. 

Namun, caranya harus benar-benar berubah. Digitalisasi bukan dimulai dari belanja perangkat, tetapi dari membangun fondasi.

Internet cepat dan listrik stabil harus menjadi syarat utama. Guru harus diberdayakan melalui pelatihan berkelanjutan, bukan sekadar workshop sehari untuk formalitas.

Dan yang paling penting, setiap rupiah anggaran pendidikan harus transparan, akuntabel, dan bisa diawasi publik. Tanpa itu, setiap proyek digital akan berulang menjadi skandal.

Negara-negara yang berhasil melakukan transformasi pendidikan digital, seperti Finlandia atau Korea Selatan, memulai dengan memperkuat pondasi dasar: infrastruktur yang merata, guru yang siap, serta regulasi yang tegas dan transparan.

Indonesia bisa belajar dari mereka, alih-alih terburu-buru membeli perangkat yang akhirnya berdebu di gudang sekolah.

Chromebookgate adalah alarm keras bagi bangsa ini. Jika pemerintah tidak segera belajar dari kegagalan ini, digitalisasi pendidikan hanya akan menjadi proyek mercusuar berikutnya—megah di atas kertas, rapuh di realitas.

Generasi muda Indonesia tidak butuh perangkat mahal yang tak terpakai. 

Mereka butuh pendidikan yang benar-benar memberdayakan, jujur, dan berpihak pada masa depan mereka.

Digitalisasi boleh gagal hari ini, akan tetapi jangan sampai harapan anak bangsa ikut dikubur bersama tumpukan Chromebook di gudang sekolah.

Mari jangan renggut masa depan anak dengan korupsi, karena hal ini akan mengambil hak mereka serta merenggut masa depan mereka.(*)

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved