Opini
Makna Tersirat: Konotasi Negatif dan Positif
Perbedaan pandangan antara pemerintah dan masyarakat bukanlah hal baru dalam dinamika bernegara.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Asyraf-Alharaer-Assegaf-Mahasiswa-IAIN-Parepare.jpg)
Oleh: Asyraf Alharaer Assegaf
(Mahasiswa IAIN Parepare)
Indonesia dianugerahi kekayaan budaya, ragam bahasa, serta alam menakjubkan yang menjadi sumber penghidupan dan identitas bangsa.
Keberagaman ini menjadi rasa syukur tersendiri menjelang peringatan 80 tahun kemerdekaan.
Di tengah semangat kebangsaan yang terus digaungkan, masyarakat Indonesia memunculkan ekspresi ialah penggunaan simbol budaya pop yakni pemasangan bendera one piece.
Hal ini memicu berbagai pandangan, beberapa anggapan positif dan negatif dari kalangan pemerintah/birokrasi dan masyarakat.
Perbedaan pandangan antara pemerintah dan masyarakat bukanlah hal baru dalam dinamika bernegara.
Dalam sistem demokrasi, perbedaan semacam ini justru menjadi bagian yang wajar dan sehat selama disalurkan secara konstruktif.
One piece bukan sekadar tontonan hiburan, tersirat banyak pembelajaran didalamnya.
Di beberapa episodenya, anime ini memuat nilai-nilai kebebasan, perjuangan melawan tirani, serta solidaritas—yang kemudian terlihat kemiripan antara situasi yang digambarkan dalam serial tersebut dengan realita sosial politik Indonesia.
Bendera bajak laut dalam one piece mempunyai simbol perlawanan terhadap ketidakadilan.
Pemerintah berpendapat bahwa pemasangan bendera one piece dianggap memecah belah masyarakat Indonesia.
Di lain sisi, Sebagian masyarakat menganggap bahwa pemasangan bendera one piece sebagai bentuk ekspresi sah dalam budaya pop global yang tumbuh di era saat ini.
Dari sudut pandang pemerintah dan sebagian masyarakat, pemasangan bendera One Piece dapat menimbulkan konotasi negatif.
Simbol bajak laut yang diusung dianggap menyimpang dari semangat nasionalisme, bahkan berpotensi melecehkan simbol negara.
Ketika dilakukan di ruang publik, terlebih menjelang peringatan kemerdekaan, tindakan ini bisa dinilai tidak etis dan berpotensi merusak nilai sakral bendera Merah Putih.