Kamis, 21 Mei 2026

Opini

Bulan Muharram: Misi Kemanusiaan dalam Persatuan dan Perdamaian

Muharram adalah bulan yang penuh haru, penuh pelajaran, dan penuh ajakan untuk memperbaiki dunia dengan kasih, bukan dengan kebencian.

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Bulan Muharram: Misi Kemanusiaan dalam Persatuan dan Perdamaian
Istimewa
Muh Yusrang S.H, Ketua IPARI Mamuju Tengah dan Nominator Penyuluh Agama Islam Award Nasional 2023 & 2024 

Muharram menjadi panggung spiritual bagi kita untuk memaknai bahwa kekuatan sejati bukan pada senjata atau kuasa, melainkan pada akhlak, kasih sayang, dan kemampuan untuk memaafkan.

Seperti Nabi Yusuf ‘alaihissalam yang memaafkan saudara-saudaranya yang dulu menjualnya sebagai budak.

Seperti Rasulullah SAW yang memaafkan orang-orang Quraisy setelah penaklukan Makkah, meskipun mereka dulu menyiksanya, memboikotnya, bahkan berusaha membunuhnya.

Inilah Islam, Agama Cinta & Agama Damai.

Bulan Muharram mengajak kita untuk lebih dari sekadar mengenang peristiwa sejarah. Ia memanggil kita untuk menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah. Menjadi perekat, bukan perusak.

Menjadi pelita, bukan api. Karena persatuan bukan hanya tentang duduk bersama dalam forum, tapi tentang hati yang saling lapang menerima perbedaan, dan tangan yang saling menggenggam untuk membangun.

Dalam hadits riwayat Muslim, Rasulullah ﷺ bersabda:

"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, seperti satu bangunan yang saling menguatkan."

Lalu mengapa hari ini, kita sering melihat umat Islam saling membenci hanya karena berbeda mazhab, berbeda cara ibadah, bahkan berbeda pilihan politik? Bukankah seharusnya kita menangis bersama saat melihat anak-anak terlantar di Palestina, di Yaman, di Sudan, di Rohingya? Bukankah kita seharusnya bersatu menghadapi ketidakadilan, bukan saling menjatuhkan?

Muharram adalah panggilan nurani. Bahwa dunia ini sudah cukup penuh luka. Jangan kita tambah lagi dengan kebencian. Bukankah lebih mulia jika kita menjadi penyembuh daripada penyebab luka? Lebih baik menjadi jembatan daripada jurang?

Ulama besar seperti Imam Al-Ghazali pernah berkata, “Hati adalah cermin jiwa. Jika engkau kotori dengan kebencian, engkau takkan melihat kebenaran.”

Maka mari bersihkan hati kita di bulan yang suci ini. Kita mulai tahun baru Islam dengan niat baru: menjadi agen perdamaian. Menjadi umat Rasulullah yang sesungguhnya, yang menebar rahmat, bukan laknat.

"Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam." (QS. Al-Anbiya’: 107)

Di sepertiga malam, saat dunia terlelap dan langit bersaksi, kita panjatkan doa yang paling jujur dari lubuk hati: Ya Allah, jadikan kami manusia yang mencintai kedamaian, yang menebar kasih sayang, dan yang selalu bersatu dalam kebaikan. Jangan biarkan kami menjadi pembawa luka dalam sejarah. Jadikan kami penerus cahaya para nabi.

Muharram bukan hanya milik masa lalu. Ia milik setiap hati yang merindukan dunia yang damai. Dan damai itu dimulai dari hati kita sendiri.

Muharram adalah milik mereka yang mencintai kedamaian. Misi kemanusiaannya tak akan pernah usang selama kita masih percaya bahwa cinta lebih kuat dari kebencian, dan persatuan lebih mulia dari perpecahan.(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved