Opini
Bulan Muharram: Misi Kemanusiaan dalam Persatuan dan Perdamaian
Muharram adalah bulan yang penuh haru, penuh pelajaran, dan penuh ajakan untuk memperbaiki dunia dengan kasih, bukan dengan kebencian.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Muh-Yusrang-SH-Ketua-IPARI-Mamuju-Tengah.jpg)
Oleh: Muh Yusrang, S.H
Penyuluh Agama Islam Mamuju Tengah
Ada momen-momen dalam hidup yang membuat kita terdiam, merenung, bahkan menitikkan air mata tanpa suara. Bulan Muharram adalah salah satunya.
Ia datang setiap tahun bukan hanya membawa angka baru dalam kalender hijriah, tetapi juga mengetuk hati, menyentuh nurani, dan mengajak kita untuk kembali pada nilai-nilai kemanusiaan yang sering terlupakan di tengah hiruk-pikuk dunia.
Setiap kali Muharram datang, hati umat Islam seolah disapa oleh waktu yang penuh makna. Ini bukan sekadar pergantian bulan dalam kalender hijriyah, tetapi momentum suci yang mengetuk kesadaran kita akan sejarah, kemanusiaan, dan cinta pada perdamaian.
Muharram adalah bulan yang penuh haru, penuh pelajaran, dan penuh ajakan untuk memperbaiki dunia dengan kasih, bukan dengan kebencian.
Muharram bukan sekadar awal tahun. Ia adalah waktu yang disucikan Allah. Dalam firman-Nya:
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus..." (QS. At-Taubah: 36)
Salah satu dari empat bulan haram itu adalah Muharram. Disebut “haram” karena pada bulan ini, Allah melarang segala bentuk kekerasan dan pertumpahan darah.
Sebuah ajakan langit agar bumi tenang. Sebuah peringatan halus bahwa manusia bukan diciptakan untuk saling memusnahkan, tetapi untuk saling menguatkan.
Namun sejarah pun bicara. Di bulan ini, umat Islam menyimpan luka paling dalam yang pernah tercatat dalam sejarah mereka. Tragedi Karbala.
Saat cucu tercinta Rasulullah, Sayyidina Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma, dibantai bersama keluarganya. Bukan oleh orang asing, tapi oleh sesama umat yang lupa akan cinta, lupa akan nilai, dan terbutakan oleh ambisi.
Karbala bukan sekadar kisah duka. Ia adalah cermin kemanusiaan. Dalam setiap tetes darah Husain, terdapat seruan sunyi tentang keadilan.
Dalam tangis para wanita dan anak-anak di padang pasir itu, ada jeritan yang tak pernah padam: “Bangkitlah wahai manusia! Jangan biarkan kebencian menguasaimu.”
Tapi bagaimana Islam menyikapi peristiwa sepedih ini? Tidak dengan balas dendam. Tidak dengan menanam bibit kebencian baru.
Rasulullah SAW bersabda:
"Barang siapa yang tidak menyayangi, maka ia tidak akan disayangi." (HR. Bukhari dan Muslim)
Dan dalam hadits lain:
"Sesungguhnya orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya." (HR. Tirmidzi)