Literasi Ulama
Orientasi dalam Beragama
Seluruh ajaran ibadah mahdah (ritual murni) dalam Islam mengandung dimensi sosial di dalamnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Ilham-Sopu-salah-satu-cendikiawan-Muslim-asal-Kabupaten-Polman.jpg)
Oleh: Ilham Sopu
Islam adalah agama yang menekankan dua aspek ajaran, yaitu aspek ritual dan aspek sosial.
Seluruh ajaran ibadah mahdah (ritual murni) dalam Islam mengandung dimensi sosial di dalamnya.
Ajaran yang paling jelas mencerminkan hal ini adalah salat, yang merupakan tiang agama.
Dalam khazanah keagamaan, disebutkan bahwa amal pertama yang diperiksa di hari akhir adalah salat. Jika salatnya baik, maka baik pula seluruh amal lainnya.
Sebaliknya, jika salatnya rusak, maka rusaklah seluruh amal.
Dalam salat terdapat simbol takbir dan taslim, takbir sebagai simbol kedekatan manusia dengan Tuhannya (hubungan vertikal), dan taslim sebagai simbol kedekatan manusia dengan sesamanya (hubungan horizontal).
Kedua orientasi ini tidak dapat dipisahkan. Memisahkan antara keduanya dapat membuat salat seseorang menjadi cacat.
Salat menjadi tolok ukur dalam seluruh ibadah Islam, karena setiap ibadah harus memiliki dimensi ubudiyah (penghambaan kepada Tuhan) dan dimensi sosial.
Ibadah puasa dan haji juga sarat dengan dua dimensi ini. Puasa, misalnya, melahirkan manusia yang suci, yang sering disimbolkan dengan kembali kepada fitrah.
Oleh karena itu, di akhir Ramadan kita merayakan Idulfitri, sebagai bentuk kembalinya manusia kepada jati diri yang hanif dan cenderung pada kebenaran.
Dalam ilmu tasawuf, proses penyucian diri dari dosa dikenal sebagai takhalli (mengosongkan diri dari sifat buruk), tahalli (mengisi diri dengan sifat baik), dan tajalli (mengejawantahkan nilai-nilai ilahiah dalam kehidupan).
Islam adalah agama yang sangat menekankan aspek amaliyah ajaran yang berorientasi pada tindakan nyata.
Dalam surah Al-Ma'un, orang yang mendustakan agama adalah mereka yang tidak peduli terhadap anak yatim dan tidak memiliki kepekaan terhadap orang miskin.
Perayaan Idulfitri dan Iduladha memiliki makna simbolis sebagai bentuk kedekatan seorang hamba kepada Tuhannya.
Idulfitri didahului oleh puasa Ramadan sebagai proses pensucian diri. Jiwa yang suci akan lebih mudah merasakan kedekatan dengan Tuhan karena ruhaniahnya telah bersih.
Sementara itu, Iduladha berkaitan erat dengan ibadah haji dan kurban. Secara etimologis, kata kurban berasal dari akar kata qaruba yang berarti "dekat".
Maka orang yang berkurban adalah mereka yang ingin mendekatkan diri kepada Allah.
Nabi Ibrahim AS menjadi simbol tertinggi dari kedekatan ini. Ia rela mengorbankan putranya, Ismail yang telah lama dinantikan kelahirannya demi mematuhi perintah Tuhan.
Ini menunjukkan bahwa kepatuhan terhadap perintah Tuhan harus diutamakan di atas kepentingan pribadi.
Dalam ketaatan itulah terdapat kenikmatan spiritual yang mendalam. Kita perlu "menyembelih" apapun yang menghalangi perjalanan menuju Tuhan.
Nabi Ibrahim AS menunjukkan bahwa menjalankan perintah Tuhan adalah jalan utama menuju kedekatan spiritual.
Inilah yang melahirkan konsep ketakwaan, yakni tujuan akhir dari seluruh ibadah.
Ketakwaan bukanlah sesuatu yang instan, melainkan hasil dari proses panjang melalui pengamalan perintah dan menjauhi larangan. Semakin kita konsisten menjalankannya, semakin dekat kita kepada Allah.
Orientasi dari Idulfitri dan Iduladha adalah manusia.
Fitrah adalah sifat dasar manusia yang hanif cenderung kepada kebenaran.
Namun, fitrah ini memerlukan proses untuk dimunculkan dalam kehidupan.
Selain memiliki potensi ilahiah, manusia juga memiliki potensi fujur (keburukan), sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an: "Fa alhamaha fujuraha wa taqwaha"—"Maka Aku ilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya."
Artinya, dalam diri manusia terdapat potensi ketuhanan dan potensi kebinatangan.
Kehadiran Iduladha membersihkan sifat kebinatangan tersebut melalui simbol kurban.
Kita menyembelih hewan kurban sebagai simbol untuk menumbuhkan kembali sifat-sifat ilahiah dan kemanusiaan dalam diri manusia.
Selalu ada pertarungan antara sifat lahut (ketuhanan) dan nasut (kemanusiaan) dalam diri manusia.
Oleh karena itu, ajaran agama dengan simbol-simbolnya memainkan peran penting dalam mengangkat derajat manusia ke level spiritual yang lebih tinggi.
Salah satu orientasi penting dari ajaran kurban adalah orientasi humani, mengikis sifat kebinatangan manusia melalui penyembelihan hewan kurban dan membagikan dagingnya kepada sesama.
Penyembelihan menjadi simbol pembersihan diri, sementara distribusi daging adalah pengejawantahan nilai-nilai sosial kemanusiaan dalam Islam.
Inilah esensi dari nilai-nilai fitrah dan kurban, keduanya membawa manusia kembali kepada jati dirinya yang suci dan berusaha mengubur sisi hewani yang ada dalam dirinya melalui simbol qurban.(*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.