Opini
Benang Kusut Kebahagiaan
Karena sesungguhnya, bahagia bukan ketika kita memiliki segalanya, tetapi ketika kita cukup dengan apa yang kita miliki dan tahu untuk apa kita hidup
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Nur-Salim-Ismail-dok.jpg)
Hindu mengajarkan tentang kebahagiaan spiritual yang muncul dari penyatuan jiwa manusia dengan Brahman, realitas ilahi yang tertinggi. Tradisi-tradisi ini seolah menyuarakan nada yang sama: bahwa kebahagiaan bukan hanya urusan rasa, tetapi juga urusan relasi—dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan diri sendiri.
Membongkar Standar Sosial Kebahagiaan
Di tengah gempuran budaya konsumsi dan digitalisasi kehidupan, kita tanpa sadar menyerap standar kebahagiaan yang ditentukan oleh luar diri. Anak-anak muda merasa gagal jika belum viral. Para orang tua merasa tidak bahagia jika anaknya tidak sesuai harapan masyarakat. Bahkan aktivitas keagamaan pun kadang dijalani bukan karena ketenangan spiritual, tetapi sebagai ajang pembuktian sosial.
Kebahagiaan pun akhirnya menjadi target, bukan proses. Ia menjadi proyek individual, bukan relasi kolektif. Dalam masyarakat seperti ini, orang-orang yang sesungguhnya telah hidup dalam cukup justru merasa tidak cukup. Sementara mereka yang mengalami kesulitan dianggap belum pantas merasa bahagia.
Padahal, seperti diungkapkan Viktor Frankl—seorang psikiater sekaligus penyintas kamp konsentrasi Nazi—kebahagiaan tidak bisa dikejar langsung. Ia muncul sebagai hasil samping dari hidup yang bermakna. Ketika seseorang menemukan makna dari penderitaan sekalipun, ia bisa merasa utuh dan tetap bersyukur.
Jalan Tengah Menuju Kebahagiaan
Dari berbagai pendekatan di atas—filsafat, psikologi, dan agama—tersirat bahwa kebahagiaan sejati tidak bisa dibeli atau dikonstruksi oleh iklan. Ia tumbuh dari kebeningan hati, kesediaan untuk hidup apa adanya, dan kemampuan untuk memberi makna pada setiap pengalaman.
Barangkali inilah saat yang tepat untuk menyederhanakan simpul-simpul yang mengikat kebahagiaan kita. Tidak semua pencapaian harus menjadi beban. Tidak semua kegagalan adalah aib. Tidak semua kebahagiaan harus diumumkan. Mungkin justru yang paling membahagiakan adalah hal-hal yang paling sederhana: doa yang lirih, pertemuan yang jujur, atau bahkan kesunyian yang diterima dengan syukur.
Pada akhirnya, kebahagiaan adalah kemampuan untuk berdamai: dengan masa lalu, dengan keadaan kini, dan dengan misteri masa depan. Benang kusut kebahagiaan memang tak dapat diluruskan dalam satu tarikan. Namun, dengan kesediaan untuk merenung, membuka diri pada kearifan lintas tradisi, dan berani melepaskan keharusan yang tak perlu, kita dapat mulai mengurai simpul-simpulnya. Bukan untuk menjadi sempurna, tetapi untuk menjadi lebih manusiawi.
Karena sesungguhnya, bahagia bukan ketika kita memiliki segalanya, tetapi ketika kita cukup dengan apa yang kita miliki dan tahu untuk apa kita hidup.(*)
| Keberpihakan terhadap Ekologi Perspektif Sustainable Ethics dan Ekoteologi Kontekstual di Mamasa |
|
|---|
| Manipulasi Narasi Digital & Profesionalisme Penegakan Hukum: Melawan Arus Trial by Social Media |
|
|---|
| Momentum Pertumbuhan dan Tantangan Kualitas Belanja |
|
|---|
| Ancaman Narkoba di Ujung Jari |
|
|---|
| Rupiah di Titik Kritis Suatu Ujian Ketahanan Bagi Ekonomi di Daerah |
|
|---|