Opini
Benang Kusut Kebahagiaan
Karena sesungguhnya, bahagia bukan ketika kita memiliki segalanya, tetapi ketika kita cukup dengan apa yang kita miliki dan tahu untuk apa kita hidup
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Nur-Salim-Ismail-dok.jpg)
Oleh: Nur Salim Ismail
DALAM kehidupan yang semakin cepat dan penuh distraksi, kata “bahagia” menjadi dambaan universal yang terus diperjuangkan, tetapi kian sulit didefinisikan. Di tengah arus modernitas yang menawarkan kemudahan dan kemewahan, manusia justru tampak lebih lelah, gelisah, dan kehilangan arah. Sungguh paradoks: semakin banyak pilihan hidup, semakin banyak pula kebingungan menentukan makna bahagia.
Kebahagiaan, dalam konteks ini, ibarat benang kusut. Tampak sederhana di permukaan, namun penuh liku ketika dicermati. Di sanalah manusia modern terperangkap: antara pencapaian dan kehampaan, antara ekspektasi dan kenyataan. Untuk memahami simpul-simpul kekusutan ini, kita perlu menelusuri jejak pemikiran filosofis, psikologis, dan spiritual yang telah berabad-abad merefleksikan makna kebahagiaan.
Warisan Epikurus: Damai sebagai Kebahagiaan
Epikurus, filsuf Yunani yang hidup pada abad ke-4 SM, sering disalahpahami sebagai penganjur kenikmatan tanpa batas. Padahal, inti ajarannya justru mengajak manusia mengejar kenikmatan yang bersumber dari ketiadaan rasa sakit (aponia) dan ketenangan batin (ataraxia). Bagi Epikurus, hidup bahagia adalah hidup sederhana, bebas dari ketakutan akan dewa dan kematian, serta cukup dengan kebutuhan dasar dan persahabatan yang tulus.
Pemikiran ini menjadi kontras dengan semangat zaman sekarang, yang sering mengaitkan kebahagiaan dengan konsumsi dan citra. Media sosial, misalnya, membentuk standar kebahagiaan yang seragam: liburan ke luar negeri, gaya hidup estetis, dan pencapaian materi. Namun, semua itu sering kali tidak lebih dari ilusi visual. Akibatnya, banyak orang justru merasa tertinggal, meski sebenarnya hidupnya baik-baik saja.
Epikurus mengajarkan bahwa yang membuat manusia tidak bahagia bukanlah kemiskinan atau penderitaan fisik semata, melainkan kecemasan yang terus menghantui batin. Dalam konteks ini, barangkali kita perlu meninjau ulang: apakah yang kita kejar selama ini benar-benar membahagiakan, atau justru menciptakan kegelisahan baru?
Psikologi dan Fenomena Keletihan Bahagia
Psikologi modern turut memperkaya pemahaman kita tentang kebahagiaan. Teori psikologi positif yang dikembangkan oleh Martin Seligman menyebutkan bahwa kebahagiaan bukan hanya soal kenikmatan sesaat (pleasure), melainkan juga meliputi keterlibatan aktif (engagement), relasi yang bermakna (relationship), pencapaian (accomplishment), dan makna hidup (meaning). Kelima elemen ini membentuk apa yang dikenal sebagai model PERMA.
Namun, di sisi lain, psikologi juga mengungkap fenomena hedonic treadmill: bahwa manusia cenderung kembali ke tingkat kebahagiaan semula tak lama setelah mengalami peristiwa menyenangkan. Promosi jabatan, peningkatan penghasilan, atau prestasi akademik mungkin memberi euforia sesaat, tetapi tidak cukup untuk memberikan kebahagiaan jangka panjang.
Dalam studi lain, psikolog Kristin Neff menggarisbawahi pentingnya self-compassion—kemampuan untuk bersikap lembut kepada diri sendiri—sebagai fondasi kesejahteraan psikologis. Kebahagiaan, dalam perspektif ini, tidak lahir dari perlombaan dengan orang lain, tetapi dari kedamaian menerima diri sebagaimana adanya.
Sayangnya, dunia modern mengajarkan sebaliknya: bahwa kita harus terus membuktikan diri, terus unggul, terus tampil sempurna. Maka, tidak heran jika banyak orang merasa terpental, lelah, sekaligus merasa bersalah karena tidak bahagia.
Lintas Iman: Spiritualitas yang Menghidupkan
Kebahagiaan juga merupakan tema sentral dalam ajaran agama-agama besar dunia. Dalam Islam, kebahagiaan sejati disebut sa’adah, yang tidak hanya berwujud kenikmatan duniawi, tetapi juga kedamaian batin dan harapan ukhrawi. Dalam banyak ayat Al-Qur’an, kebahagiaan dikaitkan dengan kebersihan hati (qalbun salim), keikhlasan beribadah, dan kesadaran akan tujuan hidup.
Dalam tradisi Kristen, khususnya dalam Khotbah di Bukit, Yesus menyebut, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.” Ini adalah penegasan bahwa kebahagiaan sejati terletak pada keterhubungan spiritual, bukan dominasi material. Sedangkan dalam Buddhisme, kebahagiaan ditemukan melalui pembebasan dari keinginan yang melekat—suatu konsep yang sangat mirip dengan ajaran Epikurus.
| Keberpihakan terhadap Ekologi Perspektif Sustainable Ethics dan Ekoteologi Kontekstual di Mamasa |
|
|---|
| Manipulasi Narasi Digital & Profesionalisme Penegakan Hukum: Melawan Arus Trial by Social Media |
|
|---|
| Momentum Pertumbuhan dan Tantangan Kualitas Belanja |
|
|---|
| Ancaman Narkoba di Ujung Jari |
|
|---|
| Rupiah di Titik Kritis Suatu Ujian Ketahanan Bagi Ekonomi di Daerah |
|
|---|