Rabu, 27 Mei 2026

Opini

Benang Kusut Kebahagiaan

Karena sesungguhnya, bahagia bukan ketika kita memiliki segalanya, tetapi ketika kita cukup dengan apa yang kita miliki dan tahu untuk apa kita hidup

Tayang:
Editor: Nurhadi Hasbi
zoom-inlihat foto Benang Kusut Kebahagiaan
Nur Salim Ismail
Nur Salim Ismail 

Oleh: Nur Salim Ismail

DALAM kehidupan yang semakin cepat dan penuh distraksi, kata “bahagia” menjadi dambaan universal yang terus diperjuangkan, tetapi kian sulit didefinisikan. Di tengah arus modernitas yang menawarkan kemudahan dan kemewahan, manusia justru tampak lebih lelah, gelisah, dan kehilangan arah. Sungguh paradoks: semakin banyak pilihan hidup, semakin banyak pula kebingungan menentukan makna bahagia.

Kebahagiaan, dalam konteks ini, ibarat benang kusut. Tampak sederhana di permukaan, namun penuh liku ketika dicermati. Di sanalah manusia modern terperangkap: antara pencapaian dan kehampaan, antara ekspektasi dan kenyataan. Untuk memahami simpul-simpul kekusutan ini, kita perlu menelusuri jejak pemikiran filosofis, psikologis, dan spiritual yang telah berabad-abad merefleksikan makna kebahagiaan.

Warisan Epikurus: Damai sebagai Kebahagiaan

Epikurus, filsuf Yunani yang hidup pada abad ke-4 SM, sering disalahpahami sebagai penganjur kenikmatan tanpa batas. Padahal, inti ajarannya justru mengajak manusia mengejar kenikmatan yang bersumber dari ketiadaan rasa sakit (aponia) dan ketenangan batin (ataraxia). Bagi Epikurus, hidup bahagia adalah hidup sederhana, bebas dari ketakutan akan dewa dan kematian, serta cukup dengan kebutuhan dasar dan persahabatan yang tulus.

Pemikiran ini menjadi kontras dengan semangat zaman sekarang, yang sering mengaitkan kebahagiaan dengan konsumsi dan citra. Media sosial, misalnya, membentuk standar kebahagiaan yang seragam: liburan ke luar negeri, gaya hidup estetis, dan pencapaian materi. Namun, semua itu sering kali tidak lebih dari ilusi visual. Akibatnya, banyak orang justru merasa tertinggal, meski sebenarnya hidupnya baik-baik saja.

Epikurus mengajarkan bahwa yang membuat manusia tidak bahagia bukanlah kemiskinan atau penderitaan fisik semata, melainkan kecemasan yang terus menghantui batin. Dalam konteks ini, barangkali kita perlu meninjau ulang: apakah yang kita kejar selama ini benar-benar membahagiakan, atau justru menciptakan kegelisahan baru?

Psikologi dan Fenomena Keletihan Bahagia

Psikologi modern turut memperkaya pemahaman kita tentang kebahagiaan. Teori psikologi positif yang dikembangkan oleh Martin Seligman menyebutkan bahwa kebahagiaan bukan hanya soal kenikmatan sesaat (pleasure), melainkan juga meliputi keterlibatan aktif (engagement), relasi yang bermakna (relationship), pencapaian (accomplishment), dan makna hidup (meaning). Kelima elemen ini membentuk apa yang dikenal sebagai model PERMA.

Namun, di sisi lain, psikologi juga mengungkap fenomena hedonic treadmill: bahwa manusia cenderung kembali ke tingkat kebahagiaan semula tak lama setelah mengalami peristiwa menyenangkan. Promosi jabatan, peningkatan penghasilan, atau prestasi akademik mungkin memberi euforia sesaat, tetapi tidak cukup untuk memberikan kebahagiaan jangka panjang.

Dalam studi lain, psikolog Kristin Neff menggarisbawahi pentingnya self-compassion—kemampuan untuk bersikap lembut kepada diri sendiri—sebagai fondasi kesejahteraan psikologis. Kebahagiaan, dalam perspektif ini, tidak lahir dari perlombaan dengan orang lain, tetapi dari kedamaian menerima diri sebagaimana adanya.

Sayangnya, dunia modern mengajarkan sebaliknya: bahwa kita harus terus membuktikan diri, terus unggul, terus tampil sempurna. Maka, tidak heran jika banyak orang merasa terpental, lelah, sekaligus merasa bersalah karena tidak bahagia.

Lintas Iman: Spiritualitas yang Menghidupkan

Kebahagiaan juga merupakan tema sentral dalam ajaran agama-agama besar dunia. Dalam Islam, kebahagiaan sejati disebut sa’adah, yang tidak hanya berwujud kenikmatan duniawi, tetapi juga kedamaian batin dan harapan ukhrawi. Dalam banyak ayat Al-Qur’an, kebahagiaan dikaitkan dengan kebersihan hati (qalbun salim), keikhlasan beribadah, dan kesadaran akan tujuan hidup.

Dalam tradisi Kristen, khususnya dalam Khotbah di Bukit, Yesus menyebut, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.” Ini adalah penegasan bahwa kebahagiaan sejati terletak pada keterhubungan spiritual, bukan dominasi material. Sedangkan dalam Buddhisme, kebahagiaan ditemukan melalui pembebasan dari keinginan yang melekat—suatu konsep yang sangat mirip dengan ajaran Epikurus.

Hindu mengajarkan tentang kebahagiaan spiritual yang muncul dari penyatuan jiwa manusia dengan Brahman, realitas ilahi yang tertinggi. Tradisi-tradisi ini seolah menyuarakan nada yang sama: bahwa kebahagiaan bukan hanya urusan rasa, tetapi juga urusan relasi—dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan diri sendiri.

Membongkar Standar Sosial Kebahagiaan

Di tengah gempuran budaya konsumsi dan digitalisasi kehidupan, kita tanpa sadar menyerap standar kebahagiaan yang ditentukan oleh luar diri. Anak-anak muda merasa gagal jika belum viral. Para orang tua merasa tidak bahagia jika anaknya tidak sesuai harapan masyarakat. Bahkan aktivitas keagamaan pun kadang dijalani bukan karena ketenangan spiritual, tetapi sebagai ajang pembuktian sosial.

Kebahagiaan pun akhirnya menjadi target, bukan proses. Ia menjadi proyek individual, bukan relasi kolektif. Dalam masyarakat seperti ini, orang-orang yang sesungguhnya telah hidup dalam cukup justru merasa tidak cukup. Sementara mereka yang mengalami kesulitan dianggap belum pantas merasa bahagia.

Padahal, seperti diungkapkan Viktor Frankl—seorang psikiater sekaligus penyintas kamp konsentrasi Nazi—kebahagiaan tidak bisa dikejar langsung. Ia muncul sebagai hasil samping dari hidup yang bermakna. Ketika seseorang menemukan makna dari penderitaan sekalipun, ia bisa merasa utuh dan tetap bersyukur.

Jalan Tengah Menuju Kebahagiaan

Dari berbagai pendekatan di atas—filsafat, psikologi, dan agama—tersirat bahwa kebahagiaan sejati tidak bisa dibeli atau dikonstruksi oleh iklan. Ia tumbuh dari kebeningan hati, kesediaan untuk hidup apa adanya, dan kemampuan untuk memberi makna pada setiap pengalaman.

Barangkali inilah saat yang tepat untuk menyederhanakan simpul-simpul yang mengikat kebahagiaan kita. Tidak semua pencapaian harus menjadi beban. Tidak semua kegagalan adalah aib. Tidak semua kebahagiaan harus diumumkan. Mungkin justru yang paling membahagiakan adalah hal-hal yang paling sederhana: doa yang lirih, pertemuan yang jujur, atau bahkan kesunyian yang diterima dengan syukur.

Pada akhirnya, kebahagiaan adalah kemampuan untuk berdamai: dengan masa lalu, dengan keadaan kini, dan dengan misteri masa depan. Benang kusut kebahagiaan memang tak dapat diluruskan dalam satu tarikan. Namun, dengan kesediaan untuk merenung, membuka diri pada kearifan lintas tradisi, dan berani melepaskan keharusan yang tak perlu, kita dapat mulai mengurai simpul-simpulnya. Bukan untuk menjadi sempurna, tetapi untuk menjadi lebih manusiawi.

Karena sesungguhnya, bahagia bukan ketika kita memiliki segalanya, tetapi ketika kita cukup dengan apa yang kita miliki dan tahu untuk apa kita hidup.(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved