Opini
Dampak Traumatik terhadap Perkembangan Spiritual Manusia
SEFT terbukti efektif meningkatkan kesejahteraan emosional sekaligus memperbaiki hubungan vertikal antara individu dan Tuhan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/sulbar/foto/bank/originals/Nur-Salim-Ismail-dok.jpg)
Oleh: Nur Salim Ismail
TRAUMA merupakan pengalaman psikologis mendalam yang dapat meninggalkan bekas luka emosional dan spiritual pada individu.
Dalam konteks perkembangan spiritual, trauma tidak hanya memengaruhi kondisi mental dan emosional seseorang, tetapi juga berdampak signifikan pada hubungan batin dengan Tuhan maupun pemaknaan hidup secara keseluruhan.
Substance Abuse and Mental Health Services Administration (SAMHSA) mengungkapkan bahwa trauma adalah akibat dari peristiwa yang mengancam keselamatan fisik maupun mental individu, sehingga memengaruhi kemampuan mereka untuk berfungsi secara normal.
Penelitian menunjukkan bahwa individu yang mengalami trauma berat sering kali mempertanyakan keadilan ilahi atau eksistensi Tuhan (krisis iman).
Hal ini dapat memicu gejala depresi eksistensial hingga nihilisme jika tidak ditangani dengan tepat.
Perkembangan spiritual sendiri merujuk pada proses pertumbuhan kesadaran akan dimensi transenden dalam diri manusia—hubungan dengan Tuhan atau kekuatan yang lebih tinggi—yang membawa kedamaian batin dan makna hidup.
Para pakar konseling menegaskan bahwa trauma dapat menyebabkan ketidakseimbangan dalam aspek spiritual seseorang, di antaranya:
Pertama, pengalaman traumatis sering kali mengguncang keyakinan dasar seseorang sehingga memunculkan keraguan bahkan kemarahan kepada Tuhan. Hal ini dikenal sebagai krisis iman, di mana korban merasa ditinggalkan atau dihukum oleh Yang Maha Kuasa.
Kedua, Kehilangan Makna Hidup. Viktor Frankl, seorang psikiater sekaligus pendiri logoterapi, menyatakan bahwa trauma dapat menyebabkan individu kehilangan tujuan hidupnya karena rasa putus asa yang mendalam. Ini berdampak negatif pada motivasi untuk berkembang secara spiritual.
Ketiga, Gangguan Kesehatan Mental dan Spiritualitas. Gangguan seperti Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) tidak hanya memengaruhi kesehatan mental, tetapi juga melemahkan kapasitas individu untuk mengalami kedamaian batin melalui praktik keagamaan maupun meditasi.
Dalam menghadapi dampak traumatik tersebut, pendekatan konseling berbasis nilai-nilai religius dan spiritual menjadi sangat penting.
Terapi ini menggunakan prinsip-prinsip Al-Qur'an dan Sunnah sebagai landasan untuk membantu klien memahami hikmah di balik musibah serta memperkuat keimanan agar mampu menerima ujian dengan lapang dada.
Dalam konteks Islam maupun agama lain, pencarian makna sering dikaitkan dengan hikmah di balik musibah (wisdom behind suffering).
Namun, proses ini tidak selalu mudah; dibutuhkan pendampingan profesional agar individu mampu merefleksikan pengalaman traumatis tanpa terjerumus ke dalam keputusasaan spiritual.