Mamuju

Permahi Mamuju Tolak Pilkada Lewat DPRD, Wardian : Khianati Semangat Refomasi

ardian menilai wacana pemilihan kepala daerah dikembalikan ke DPRD adalah kegagalan demokrasi dan akan mengurangi peran serta masyarakat

Penulis: Lukman Rusdi | Editor: Abd Rahman
ist
Ketua Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (Permahi) Wardian. 

TRIBUN-SULBAR.COM, MAMUJU - Ketua Perhimpunan Mahasiswa Hukum Indonesia (Permahi) Wardian, turut memberikan komentar terkait wacana pemilihan kepada daerah dikembalikan ke Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

Wardian menilai wacana pemilihan kepala daerah dikembalikan ke DPRD adalah kegagalan demokrasi dan akan mengurangi peran serta masyarakat dalam memilih pemimpin.

“Ini ada kegagalan demokrasi dan tentunya akan memperkuat simpul oligarki, apabila pemilihan kepala daerah dikembalikan ke DPRD ini justru akan membatasi partisipasi masyarakat dalam memilih pemimpinnya,” kata Wardian kepada Tribun-Sulbar.com, Kamis (19/12/2024) siang.

Ia mengatakan, pemimpin yang terpilih kemungkinan besar akan lebih mengutamakan kepentingan pemodal dan partai politik daripada kepentingan masyarakat.

Dengan kata lain, keputusan dan kebijakan yang diambil oleh pemimpin tersebut tidak akan mencerminkan aspirasi dan kebutuhan rakyat, melainkan lebih condong kepada kepentingan kelompok tertentu.

“Ini akan melahirkan pemimpin yang kebijakannya tidak lagi berpihak kepada masyarakat tapi justru mengutamakan kepentingan pemodal dan partai politik,” ungkap ketua Wardian.

Wardian mengingatkan, pemilihan kepala daerah oleh DPRD pernah diterapkan pada masa Orde Baru dan metode tersebut dianggap bertentangan dengan semangat reformasi.

“Ini justru akan mengkhianati semangat reformasi, karena sebagaimana yg kita ketahui pemilihan kepala daerah dilakukan oleh DPRD itu sudah pernah kita lakukan di masa orde baru yg diatur dalam Undang-undang No 5 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok pemerintahan daerah,” ungkapnya.

Meskipun usulan untuk mengembalikan pemilihan kepala daerah dianggap lebih efisien dari segi anggaran, Wardian menilai hal itu justru dapat menyebabkan peningkatan pengangguran.

“Walaupun usulan ini lebih efisien dalam anggaran pilkada, akan tetapi justru akan menambah angka pengangguran karena yg tadinya banyak masyarakat yang terlibat dalam penyelenggaraan pilkada mereka akan kehilangan pekerjaan contohnya PPK,Panwascam,PPS, Panwaslu sampai KPPS dan PTPS,” jelanya.

Tak hanya itu, kedepannya ia menduga tidak akan ada lagi pemerintah yang akan terjung dan berhubungan langsung dengan masyarakat karena dianggap tidak ada kontribusi apapun. 

Menurutnya, jika pemilihan kepala daerah dikembalikan ke DPRD justru kami menganggap akan melahirkan pemerintahan yang karena proses pemilihan yang tidak transparan dan tidak melibatkan masyarakat.

“Kami dari Permahi Dpc Mamuju menganggap wacana pemilihan kepala daerah dikembalikan ke DPRD itu hanya akan melahirkan masalah baru dan betul-betul sangat menghianati semangat reformasi rakyat Indonesia,” tandasnya.

Sebagai informasi, dikutip dari Tribunnews.com,  usulan tersebut sebelumnya disampaikan Ketua Umum Partai Gerindra sekaligus Presiden RI, Prabowo Subianto.

Hal ini disampaikan Prabowo saat pidato pada puncak perayaan HUT ke-60 Partai Golkar di Sentul Internasional Convention Center (SICC), Jawa Barat, Kamis (12/12/2024) malam.

Baca juga: Mahasiswa Demo, DPRD Pasangkayu Langsung Panggil Kepala Dinas Capil Klarifikasi Buruknya Layanan

Baca juga: Berburu Gas LPG 3 Kg, Warga Serbu Pasar Murah di Lapangan Ahmad Kirang Mamuju

Prabowo mengajak seluruh ketua umum partai politik yang hadir dalam acara tersebut untuk mendukung wacana tersebut. Sebab,sistem politik demokrasi pemilihan langsung dianggap berbiaya mahal.

"Ketua umum partai Golkar, salah satu partai besar, tadi menyampaikan perlu ada pemikiran memperbaiki sistem parpol, apalagi ada Mba Puan kawan-kawan dari PDIP, kawan-kawan partai-partai lain mari kita berpikir," kata Prabowo.

Menurutnya, sistem politik dengan pemilihan langsung menghabiskan banyak uang negara dalam hitungan hari. Tak hanya itu, para tokoh politik juga harus merogoh kocek yang tidak sedikit.

Prabowo pun memberikan contoh Malaysia, Singapura hingga India yang sudah melakukan pemilihan kepala daerah melalui DPRD. Nantinya, para anggota DPRD menjadi penentu terpilihnya calon kepala daerah.

"Sekali milih anggota DPRD, DPRD itu lah yang milih gubernur milih bupati. Efisien gak keluar duit, efisien, kaya kita kaya," ungkapnya.

Dengan begitu, kata Prabowo, anggaran negara bisa dipakai untuk keperluan program pemerintah lainnya. Misalnya, makan bergizi gratis bagi anak-anak hingga perbaikan sekolah.(*)

Berita Terkait

Ikuti kami di

AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved