Opini

Harta, Tahta dan Cinta

Relasi harta, tahta dan Cinta yang terbungkus oleh trend hedonistik akan mengantar pengagumnya pada kesenangan-kesenangan semu

Editor: Ilham Mulyawan
Ustaz Nur Salim Ismail
Ustaz Nur Salim Ismail S. Th. I, M.Si. ketua LD PWNU Sulbar 

Oleh: Nur Salim Ismail

TRIBUN-SULBAR.COM - Saat menyimak narasi tentang Harta, Tahta dan Cinta, seketika nalar kita terseret dalam nuansa romatisme. Sebuah lakon memadu kasih antara mereka yang sedang jatuh cinta. 

Namun kali ini, narasinya tidak sedang mengulas seputar kekuatan pada tiga dimensi tersebut. Melainkan pada upaya pelacakan relasi antar ketiganya. Pertanyaan mendasar yang hendak diajukan adalah, adakah relasi yang kuat antara kemapanan harta, kekuatan tahta dan kesetiaan cinta? 

Asumsi yang mendominasi cakrawala berpikir kita selama ini bahwa tingginya angka perceraian di Indonesia misalnya, didominasi oleh faktor ekonomi. 

Namun faktanya, penyebab utamanya bukan pada permasalahan ekonomi. Melainkan pertengkaran dan perselisihan yang terus-menerus terjadi. 

Selain itu kurangnya dukungan keluarga, perselingkuhan, ketidakcocokan, kurangnya perhatian dan komunikasi juga menjadi faktor utama alasan pasangan suami istri bercerai. 

Faktor ekonomi menjadi nomor kesekian sebagai penyebab perceraian yang terjadi di Indonesia. 

Kemudian disusul dengan tidak menjaga komitmen, menikah terlalu muda atau belum siap menikah, narkoba, mabuk, dan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), menjadi faktor lain sebuah perceraian. 

Salah satu penelitian paling populer mengenai uang dan kebahagiaan dilakukan oleh Denill Kahneman dan Anton Deaton pada tahun 2010. 

Mereka menganalisis 450.000 responden dari survei yang dilakukan oleh Gallup dan Healthways, kemudian menemukan bahwa kebahagiaan meningkat seiring dengan meningkatnya pemasukan yang diperoleh (Goei: 2021).

Mereka menemukan bahwa orang-orang yang berpendapatan rendah, rentan untuk tidak bahagia. Tingkat ekonomi rendah dapat menimbulkan berbagai masalah seperti kelaparan, perceraian, kesulitan akses kesehatan dan sebagainya. 

Dengan adanya uang, seseorang dapat mengatasi kesulitan-kesulitan hidupnya, terutama yang berkaitan dengan kebutuhan dasar, sehingga ia bisa lebih merasa bahagia. 

Temuan dari penelitian Ed Diener dan Robert Biswas Dienerr (2002) lebih menarik lagi. Menurutnya, terdapat hubungan signifikan antara pemasukan dan kebahagiaan. Pada negara-negara miskin, hubungan antara pemasukan dan kebahagiaan berbanding lurus. 

Artinya, kekuatan cinta pada negara-negara miskin sangat tergantung pada ‘ketebalan’ isi dompet dan fluktuasi saldo yang relatif stabil.  Maka kesimpulannya, uang dapat memberi kebahagiaan. 

Tetapi, menurut Garvin Goei, setelah seseorang memperoleh pendapatan sekitar 75.000 dollar, pemasukan secara finansial tidak lagi menjamin kebahagiaan. Dengan kata lain, uang tidak memberikan insentif kebahagiaan ketika seseorang telah mampu memenuhi kebutuhan dasarnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved